Sekilas Tentang Filsafat Dan Filsafat Nyaya

Sangat jamak bagi nasib kebenaran baru bahwa ia mulai sebagai hujatan dan berakhir sebagai sebuah tahyul.” (T.H. Huxley)[1]

Oleh: Yuhis Muh. Burhanuddin*)

Filsafat: Dari Pertanyaan Ke Pertanyaan

APA itu Filsafat pertama-tama adalah pertanyaan Ilmu Filsafat yang dibahas oleh hampir semua literatur filsafat yang ada, baik itu berupa buku-buku rujukan, jurnal, maupun artikel dan ulasan-ulasan. Dari pertanyaan sederhana ini lahir pulalah beragam defenisi Filsafat.

Filsafat umumnya didefenisikan sebagai upaya pemikiran yang logis, sistematis, dan kritis, serta mendalam (radix) dan menyeluruh (komprehensif) untuk mencari jawaban dan atau kebenaran yang mutlak. Penyelidikan filsafati ini (sistematis, kritis, radix dan komprehensif) membidik sasaran tembak (baca: objek) apa saja, termasuk eksistensi Tuhan yang — bagi sebagian orang — masih sangat ditabukan. Bagi Filsafat, tak satupun yang tabu untuk dipertanyakan. Demikian, Filsafat selalu diawali dengan pertanyaan dan “ironisnya”, pun juga berakhir dengan pertanyaan.

Filsafat adalah “anti-kemapanan” di dalam dirinya. Mengapa? Dengan mengawali dan mengakhiri penyelidikan, spekulasi, dan argumen-argumennya dengan pertanyaan, nyaris tidak ada jawaban mutlak di dalam penyelesaian filsafati. Di dalam Filsafat selalu terbuka ruang bagi kritik. Bahwa kemudian ia menyelidiki segala sesuatu (realitas) untuk mencapai atau tiba pada sebuah kebenaran yang absolut (mutlak), memang demikianlah Filsafat. Persoalannya adalah kebenaran absolut itu sendiri adalah ideal yang kriterianya masih diperdebatkan. Jika misalnya secara naif kita menuding bahwa Kebenaran Absolut itu otomatis adalah Tuhan, maka menurut Filsafat, itu belum tentu!

Filsafat, jika kita menggunakan pendekatan Upamana Pramana, ibarat pasukan marinir yang menjadi pioner di setiap medan pertempuran. Pasukan marinir bertugas membuka jalan, kemudian pasukan infanteri melewati jalan tersebut. Filsafat membuka jalan, kemudian jalan yang sudah terbuka itu menjadi disiplin ilmu tertentu. Setelah itu, Filsafat tidak akan tinggal diam di dalamnya, melainkan terus merambah wilayah yang baru. Begitu seterusnya. “Adakah kata akhir bagi filsafat?” Pertanyaan ini pun masih diperdebatkan sampai detik ini. Singkatnya, seperti tokoh Gatoloco yang kontroversial itu, yang mana eksistensinya akan habis bilamana dia tidak “nyelenneh”, “urakan”, dan lain sebagainya—yang kesemuanya merupakan sikap anti-kemapanan—Filsafat juga akan habis eksistensinya bilamana ia ajeg (statis), apalagi bersikap positivistik.

Ragam Filsafat: Timur-Barat

RAGAM filsafat dibagi atas dua kategori pemikiran besar yakni pemikiran Filsafat Timur dan pemikiran Filsafat Barat. Masing-masing “blok” ini memiliki ragamnya masing-masing. Filsafat Timur misalnya, terdiri atas pemikiran Filsafat Islam, Filsafat Hindu, Filsafat Cina dan Filsafat Buddha. Sementara Filsafat Barat ragamnya terentang sejak dari abad ke-6 Sebelum Masehi (Yunani Kuno: Pra Sokrates, Masa Sokrates sampai Pasca Aristoteles, Abad Pertengahan (The Dark Age), zaman Renaissance, Abad Pencerahan (Enlightenment) yang melahirkan Abad Modern) sampai hari ini—Post-Modernisme.

Filsafat Islam dan Filsafat Hindu masing-masing memiliki ragamnya sendiri-sendiri. Mu’tazilah, Asy’ariyah, Syiah, Maturidiyah, dan Jabariyah adalah ragam Filsafat Islam. Sementara Nyaya, Waisesika, Sankhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta, serta Adwaita, Wisistadwaita dan Dwaita adalah ragam Filsafat Hindu. Baik Filsafat Islam maupun Hindu — yang masuk ke dalam gerbong Filsafat Timur — sama-sama memiliki kekhasan fokus penyelidikan yang sifatnya Metafisis-Teologis-Teleologis. Filsafat Hindu berkutat (baca: fokus) pada Brahman, Atman, Prakrti, Kala dan Karma—termasuk Kelepasan (Moksa). Filsafat Islam berkutat pada Eksistensi Tuhan, Kenabian, Kebebasan vis a vis Qada’-Qadar (Takdir) dan Al-Ma’ad (Hari Akhir). Kesamaan kedua di antara keduanya (Filsafat Islam dan Hindu) adalah bahwa Filsafat adalah pintu masuk keimanan jika tidak bisa dibilang “Pelayan Teologi”. Di bawah ini kita akan melihat salah satu dari enam sistem Filsafat Hindu ( Sad-Darsana—enam pandangan hidup atau sistem filsafat).

Nyaya

GAUTAMA, yang hidup pada abad ke-4 Sebelum Masehi, menulis Nyaya-Sutra. Dalam berbagai literatur sejarah Filsafat Hindu, beliau disebut sebagai The Founding Father-nya sistem Filsafat Nyaya. Jika dibandingkan misalnya dengan Thales, yang hidup kira-kira 625-545 SM — dan juga yang lainnya — Nyaya, yang nyaris sezaman dengan mereka, sudah lebih maju penyelidikan filsafatnya.

Memang, beberapa Filosof Pra Sokrates seperti Thales dan Anximenes sudah berkutat pada penyelidikan asas sebagai asal-mula semesta ini. Akan tetapi, menurut hemat saya, jawaban mereka (tentang anasir-anasir, kecuali Anaximandros[2]), selain belum dibangun di atas bangunan logika dan epistemologi yang mantap, jawaban seperti ini sebetulnya sudah tercantum di dalam Kitab Suci Weda (terutama Samhita dan Brahmana). Berbeda dengan Nyaya. Pada zamannya, Nyaya sudah menyelidiki realitas, termasuk asas sebagai asal-mula semesta ini, dengan pemikiran yang logis, kritis dan analitik. Di samping itu, Nyaya juga disebut-sebut sebagai ilmu berdebat, sementara kita semua tahu bahwa berdebat adalah pertama-tama mesti dibangun di atas fondasi logika yang kuat. Di bawah ini kita akan melihat seperti apa bangunan epistemologi Nyaya yang membedakannya dengan Filosof Pra-Sokrates.

Epistemologi Nyaya

BANGUNAN epistemologi Nyaya adalah realis-empiris[3]. Maksudnya bahwa dunia di luar kita berdiri sendiri. Jika dunia di luar kita berdiri sendiri, maka otomatis pengetahuan pun berasal darinya. Jika begini adanya, demikian menurut Nyaya, maka Pengetahuan tentang dunia di luar kita yang berdiri sendiri tersebut mesti didapatkan pertama-tama alat-alat inderawi kita. Akan tetapi Nyaya tidak berhenti hanya pada proses pencerapan inderawi atas sesuatu di luar kita tersebut. Karena bagaimanapun juga, akal mesti ikut berperan di sini. Ini bisa juga dikatakan sebagai pengetahuan yang A Priori dan A Posteriori dalam istilah Kant[4]. Bagi Nyaya, dibutuhkan instrumen lain atau alat (pramana) agar pengetahuan awal (yang umumnya masih mentah cerapan inderawi) bisa valid. Maka dibangunlah empat alat (pramana), yaitu Pratyaksa, Anumana, Upamana, dan Sabdha, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Keempat pramana ini adalah sistem Epistemologi Nyaya.

Pramana pertama adalah Pratyaksa. Pratyaksa adalah pengamatan. Cara kerjanya seperti ini. Segala sesuatu yang eksis di luar kita (manusia) bisa diamati keberadaannya selama ia dicerap panca indera. Di sini kita bisa lihat bahwa Nyaya betul-betul realis-empiris. Pandangan seperti ini belakangan baru berkembang di Barat beberapa abad setelah Masehi, tepatnya pada filsafat Empirisme-nya David Hume. Kembali kepada Nyaya. Mengapa demikian? Menurut Nyaya, ada hubungan antara kita (manusia) dan segala sesuatu yang eksis sebagai sasaran[5]. Sasaran ini, jika kita memakai pendekatan Nyaya yang realis-empiris, tentu mesti menempati ruang dan waktu. Singkatnya, antara manusia sebagai subjek pengamat dan benda sebagai objek yang diamati ada sebuah hubungan di antara keduanya. Hubungan ini bukanlah sensasi-sensasi semata (sebagaimana Hume menyatakannya), tetapi hubungan tersebut ada, nyata, dan riil.

Pratyaksa ada yang bersifat tidak-ditentukan (nirwikalpa) dan ada yang pula ditentukan (sawikalpa). Jika kita mengamati sebuah objek sambil lalu, itu adalah Nirwikalpa; kita belum mengetahui sepenuhnya objek tersebut karena yang kita tahu hanyalah bahwa ia ada, titik. Dan untuk sampai ke pemahaman yang menyeluruh tentang objek tersebut, kita mesti mengamatinya dengan seksama — apa-apa saja yang khas menyangkut objek tersebut — dan ini adalah Sawikalpa. Dengan Sawikalpa ini kita dapat mengetahui sebuah objek misalnya, atau katakanlah benda, bahwa ia itu adalah ini, warnanya ini, bentuknya ini, dan lain sebagainya. Sebetulnya ada banyak hal yang menyangkut Pratyaksa, misalnya yang dapat diamati bukan hanya substansi tetapi juga aksiden-aksiden-nya[6] yang abhawa[7]. Di samping itu ada juga pengetahuan yang bisa keliru[8] namun bukan berarti eksistensi yang kita amati dan lantas keliru itu memang salah adanya. Sebaliknya ia eksis, ada secara nyata, mungkin di tempat lain atau di mana saja.

Anumana adalah pramana yang cukup penting karena ini adalah penyimpulan. Konsep dasarnya adalah bahwa antara subjek yang mengamati dan objek yang diamati mesti terdapat sesuatu antara. Ini sangat berbeda dengan silogisme Aristoteles[9]. Sillogisme Nyaya tetap berdasarkan realitas, dan perantara antara subjek dan objek yang diamati tersebut juga bersifat empiris. Contohnya gunung yang mengeluarkan asap. Bagaimana kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa gunung tersebut berapi? Gunung adalah objek; kita mengamatinya dan kita melihat ada asap. Sebelum kita tiba pada kesimpulan bahwa gunung tersebut berapi, di titik ini kita mesti menyelidiki perantara-nya yang empiris. Bahwa kita pernah membakar sampah, memasak dan lain sebagainya. Dari pengalaman ini, kita menyaksikan bahwa sebelum sampah itu terbakar, mesti lebih dulu ada asap. Dengan kata lain, kesimpulan yang diambil (anumana) menurut Nyaya tidaklah abstrak, tetapi nyata bahwa kita pernah menyaksikan bahwa asap selalu disusul oleh api atau sebaliknya. Dan ketika kita melihat gunung yang mengeluarkan asap, karena pengalaman-pengalaman yang pernah kita saksikan dan alami berkata seperti itu, maka di saat itu pula kita langsung menyimpulkan bahwa gunung itu adalah gunung berapi, karena setiap ada asap pasti ada api walaupun di puncak gunung tersebut apinya belum tampak. Singkatnya, pengalaman kita akan setiap ada asap pasti ada api dan sebaliknya adalah posisi antara di dalam metode penarikan kesimpulan (anumana) menurut Nyaya.

Upamana adalah analogi atau perbandingan. Konsep dasar Upamana adalah membandingkan (menganalogikan) sesuatu dengan sesuatu yang lain yang hampir sama (tetapi tidak identik!) agar apa yang kita bandingkan tersebut dipahami oleh orang lain walaupun orang tersebut belum pernah menyaksikan secara langsung apa yang kita maksudkan. Misalnya saya mengatakan kepada Si A bahwa X itu berbahaya. Cilakanya Si A belum pernah melihat langsung apa itu X, otomatis dia tidak tahu. Selanjutnya saya harus memutar otak agar Si A tahu. Dalam situasi buntu seperti ini, saya mengambil sebuah perumpamaan yang mirip dengan X tersebut, katakanlah Z. Karena Z ini sudah akrab di mata Si A, barulah dia memahami. Suatu saat nanti, ketika dia melihat sesuatu yang mirip dengan yang pernah saya bandingkan tersebut (Z), maka otomatis Si A akan menyimpulkan bahwa inilah X, karena mirip dengan Z.

Pramana yang terakhir adalah Sabdha atau kesaksian. Pengetahuan bisa didaptkan melalui kesaksian orang yang mumpuni tentang sesuatu hal dan yang bisa dipercaya. Dalam hal ini, Weda adalah kesaksian yang bisa dipercaya kebenarannya. Orang yang bisa dipercaya kesaksiannya sebagai sumber pengetahuan disebut Laukika, sementara kitab suci Weda sebagai sumber pengetahuan disebut Vaidika. Contoh laukika seperti ini. Seseorang yang menderita sakit percaya bahwa penyakitnya TBC; dia sangat percaya karena yang memberitahukannya adalah dokter. Dokter dalam konteks ini adalah orang yang dipercayai kesaksiannya (laukika). Sebaliknya, tentu si sakit ini tidak akan percaya seratus persen bilamana yang menyimpulkan sakitnya itu adalah petani atau nelayan. Mengapa? Nelayan dan petani tidak tahu-menahu soal penyakit dalam manusia. Begitu juga misalnya jika saya mau tahu kapan waktu tanam tiba, tentu saya mesti menanyakannya kepada petani, bukan kepada dokter!

Filsafat Ketuhanan Nyaya

TENTANG Tuhan; Nyaya menyebutnya sebagai Penggerak Pertama atom-atom pembentuk alam ini. Nyaya membeberkan bukti kosmologis: dunia adalah akibat. Sementara bukti teleologis adalah tertib alam dan gerak. Dengan demikian, Tuhan adalah pencipta dan pemelihara. Tuhan adalah Jiwa (atau Kesadaran) Tertinggi: Paramatman. Tentang jiwa indvidu. Jiwa orang per orang adalah jivatman yang selalu terikat dengan karma-nya. Karma mempengaruhi kelepasan (Moksa). Kelepasan bisa diperoleh dengan pengetahuan kebenaran (enam belas kategori) karena ini bisa membebaskan seseorang dari ketidaktahuan. Ketidaktahuan inilah yang menyebabkan seseorang itu terlahir kembali.

Demikianlah perkenalan singkat kita dengan Filsafat dan Nyaya. Di lain waktu dan kesempatan, sebaiknya kita berkenalan juga dengan sutra-sutra yang lain. (*)

Denpasar, 2007

*) adalah esais yang kini sedang menempuh kuliah di Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar – Bali


[1] Dikutip dari Alan Woods dan Ted Grant, 2006, Reason in Revolt Revolusi Berpikir Dalam Ilmu Pengetahuan Modern, IRE Press, Yogyakarta, hal. 495.

[2] Anaximandros (610-540 SM) berpendapat bahwa “Yang Tak Terbatas” (Apeiron) yang meliputi segala sesuatu. Bandingkan misalnya dengan Anaximenes dan Thales (keduanya mengajukan salah satu dari empat anasir).

[3] Di beberapa buku Filsafat India tercatat sebagai “Realisme”. Saya cenderung menyatakan bahwa Nyaya bersifat “Realis-Empiris” sebagaimana alasan-alasan di atas.

[4] A Priori adalah kebenaran yang berada di depan, yang tanpa perlu dibuktikan secara empiris pasti sudah benar, contohnya sebab-akibat, dan A Posteriori adalah kebenaran yang bersifat empiris saja.

[5] Bandingkan dengan Kant. Immanuel Kant menyatakan bahwa yang kita bisa tahu dari sebuah objek adalah Fenomena-nya saja, apa yang tampak dari benda itu, sedangkan objek sebagai benda kita tidak pernah tahu, maka itu dari itu Kant menyebutnya “Das Ding an Sich” atau “Things-In-Itself”—objek-pada-dirinya.

[6] Konsep dasar Aksiden, sebagai istilah teknis filsafat, adalah sesuatu yang melekat, merujuk kepada sesuatu yang lain. Jadi, aksiden sebagai sesuatu melekat pada setiap subtansi sebagai sesuatu yang lain. Aakan tetapi substansi itu sendiri tidak melekat pada aksiden tersebut. Contohnya Piring dan Putih masing-masing adalah substansi dan aksiden. Piring adalah substansi; ia bisa eksis tanpa putih (aksiden), piring ya piring, sementara putih sebagai aksiden pasti selalu membutuhkan substansi, tidak bisa eksis sebagai putih saja. Ada juga yang berpendapat bahwa antara substansi dan aksiden tidak bisa dipisahkan. Pendapat seperti ini akan gagal bilamana ia ditarik ke wilayah Metafisika.

[7] Tidak terlihat.

[8] Contohnya penampakan antara seutas tali dan seekor ular yang bisa jadi kita keliru menyimpulkan yang mana ular dan yang mana tali. Keduanya sama-sama eksis, ada dan benar.

[9] Premis Mayor dan Premis Minor, kemudian dari penggabungan dan perbandingan keduanya ditarik kesimpulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: