Kapitalisme Klasik Dan Kapitalisme Mutakhir

ABSTRAK: Kapitalisme sekarang (kapitalisme pasca industrial) sangat berbeda dari kapitalisme awal sebagaimana yang pernah disaksikan Karl Marx. Begitu juga dengan prediksi Marx tentang runtuhnya kapitalisme dan atau kapitalisme sedang menggali kuburannya sendiri karena kontradiksi di dalam dirinya, meleset seratus persen. Fakatnya kapitalisme mampu memodifikasi-diri sehingga ia kini tampak lebih “humanis”. Keunggulan memodifikasi diri inilah yang membuatnya kemudian mampu eksis, dan kini melesat masuk serta mengambil bagian di dalam hampir semua lini kehidupan kita, termasuk agama. Tapi betulkah ia kini lebih humanis?  

 

KATA KUNCI: Kapitalisme, Alienasi, Konsumerisme, Pasar, “Agama Pasar”

 

Prolog  

  MUNGKIN KARENA kesalnya ia menyaksikan agama telah menjadi semacam “alat” legitimasi perbudakan manusia atas manusia lainnya, Karl Marx pun kemudian menulis, “Religion is the sigh of the oppressed creature, the feelings of a heartless world… It is the opiate of the people.”[i] Bagi sebagian agamawan saat ini, begitu juga dengan umat beragama lainnya, ungkapan Karl Marx tersebut adalah ungkapan filosof materialis yang anti-agama, atau seorang yang atheist—tidak ber-Tuhan. Oleh karena itu, ungkapan tersebut dianggap sebagai ungkapan yang melecehkan agama.

 

Terlepas dari benar atau tidaknya bahwa ungkapan di atas melecehkan agama, artikel ini tidak berpretensi untuk membela Marx dalam hal pelecehan agama. Akan tetapi, ada satu hal yang patut dipikirkan bersama. Bahwa ketika berbicara soal the oppressed creature, soal exploitation de l’homme par l’homme, soal eksploitasi buruh, soal akumulasi modal, soal penguasaan modal dan alat produksi, dan lain sebagainya; yang mana semua itu bermuara pada satu sistem yang ekonomi mainstream yang bernama kapitalisme, maka, suka atau tidak suka, nama Marx dan kritiknya terhadap kapitalisme, adalah kenyataan sejarah yang patut kita akui dan hargai. Seperti yang akan kita lihat bersama, Marx-lah orang yang pertama menelanjangi kebobrokan kapitalisme yang katanya rasional itu dalam salah satu master-piece-nya yang berjudul Das Kapital. Tentang pentingnya buku ini, Frederick Engels, rekan setia Marx yang memberinya uang selama Marx menulis buku tersebut, menulis: “Selama adanya kaum kapitalis dan kaum buruh di atas bumi, tiada buku yang sedemikian pentingnya bagi kaum buruh seperti buku yang di depan kita ini (Das Kapitalpen). Hubungan modal dan kerja, engsel yang di atasnya seluruh sistem masyarakat sekarang berputar, di sini untuk pertama-kalinya dikupas secara ilmiah dan dengan ketuntasan dan ketajaman yang hanya mungkin bagi seorang Jerman. Betapa pun berharga dan akan tetap berharganya tulisan-tulisan seorang Owen, Saint-Simon, Fourier, ternyata dicadangkan bagi seorang Jerman untuk terlebih dulu naik ke ketinggian dari mana seluruh medan hubungan-hubungan sosial modern dapat dilihat dengan jelas dan selengkapnya presis sebagaimana pemandangan pegunungan yang lebih rendah terlihat oleh seorang pengamat yang berdiri di puncak tertinggi.”[ii]  

 

Kritik Marx Terhadap Kapitalisme Awal

  GAMBARAN wajah kapitalisme dalam konsepsi Marx sangat mengerikan. Jika diandaikan seekor monster raksasa, kapitalisme adalah monster raksasa itu yang sedang menggenggam eksistensi manusia dan di saat yang bersamaan, ia pun menggerogotinya sedikit demi sedikit. Anehnya, manusia tidak menyadari keberadaan monster tersebut. Dan yang lebih aneh lagi, manusia tidak menyadari dirinya ketika digerogoti pelan-pelan. Marx, dengan pemikirannya yang tajam, sebetulnya ingin mengingatkan bahaya itu; bahwa kapitalisme menciptakan apa yang disebut keterasingan atau dalam istilah Marx disebut alienasi.

 

Alienasi adalah salah satu tesis penting dalam pemikiran filosofis Marx. Di kemudian hari, pemikir-pemikir Neo-Marxisme abad dua puluh mengadopsi konsep ini ke dalam kerangka pemikiran mereka masing-masing. Secara istilah, alienasi bisa diartikan sebagai keterasingan dari sesuatu hal. Akan tetapi dalam konsep Marx, alienasi bermakna bahwa pekerja yang notabene menghasilkan barang atau hasil karya justru terasing dari buatannya sendiri. Mengapa demikian?

 

Sederhananya, seorang tukang yang membuat meja misalnya, akan terasing dari hasil karyanya mengingat meja tersebut harganya jauh lebih mahal dari pada bayaran dia ketika dia memproduksi dan menghasilkan meja tersebut. Kenyataan seperti ini juga berlaku dalam ruang-lingkup kerja yang lebih besar, misalnya di pabrik, perusahaan, dan seterusnya. Jika kita memperhatikan kondisi ini misalnya: katakanlah harga sebuah televisi 24 inc di pasaran berkisar 1 sampai 2 juta. Dalam proses pembuatannya, bisa ditaksir bahwa telah terjadi akumulasi kapital yang sudah dihitung oleh si pemiliki modal; misalnya berapa harga produksi, berapa ongkos pengerjaannya, berapa lama ia dikerjakan, dan berapa ongkos promosinya, dan seterusnya, dan seterusnya. Semua ini terakumulasi ke dalam modal kerja. Buruh yang mengerjakan televisi tersebut katakanlah dibayar 1 juta perbulan. Akan tetapi, si buruh ini tentunya telah menghabiskan waktu setidaknya 10 jam sehari dan enam hari seminggu dalam pengerjaannya. Di sini dapat dilihat bahwa harga televisi tersebut di pasaran telah jauh  lebih mahal dari upah si buruh jika dibandingkan waktu dan tenaga yang ia habiskan untuk membuat barang tersebut. Maka, si buruh ini telah terasing dari hasil pekerjaannya alias barang yang ia hasilkan lebih mahal dari “harga” dirinya sebagai pekerja. Inilah yang dimaksud dengan alienasi. Marx menulis, “Nilai si pekerja sebagai modal naik berkesesuaian dengan permintaan dan persediaan, dan bahkan secara fisikal, keberadaannya, hidupnya, adalah dan dipandang sebagai suatu persediaan suatu barang dagangan seperti barang dagangan lainnya. Si pekerja itu memproduksi modal, modal memproduksi dirinya (si pekerja)—karenanya ia memproduksi dirinya sendiri, dan manusia sebagai pekerja, sebagai suatu barang dagangan, adalah produk dari siklus ini. Bagi manusia yang cuma seorang pekerja belaka—dan baginya sebagai seorang pekerja—kualitas-kualitas kemanusiaannya hanya ada sejauh itu berada (eksis) bagi modal yang asing (alien) baginya”[iii]. Walhasil, dalam pandangan Marx, buruh atau pekerja nilai kediriannya tidak lebih dari nilai sebuah barang dagangan di mata kapitalis.

 

Keterasingan (alienasi) dalam konsep Marx juga sangat berhubungan dengan konsepnya yang lain tentang nilai-lebih. Tentu ini masih berada dalam konteks kerja dan relasi buruh majikan. Nilai-lebih dapat diartikan sebagai tambahan harga dari suatu barang yang dijual, misalnya sebuah pensil dibeli dengan harga Rp. 1000, lalu dijual kembali dengan harga Rp. 1100; Rp. 100 ini adalah nilai-lebih dalam konteks penjualan yang normatif. Bagi Marx, nilai-lebih dalam sistem ekonomi kapitalis sebetulnya tidak sesederhana itu. Pertama-tama, Marx menggaris-bawahi bahwa dalam sisteme produksi kapitalis barang dagangan memiliki nilai-guna atau nilai-pakai[iv]. Nilai-guna ini memunculkan atau menciptakan nilai baru bagi barang dagangan tersebut yaitu tenaga-kerja[v]. Tenaga kerja telah dibeli oleh kapitalis dalam pengertian bahwa ia dibayar untuk memproduksi barang tertentu. Sebetulnya, demikian kata Marx, ketika si kapitalis itu membayar upah kerja si pekerja katakanlah selama seminggu, ia sebetulnya sudah membeli tenaga si pekerja lebih dari yang semestinya ia bayar. Dalam arti kata, meskipun ia membayarnya hanya sehari saja, itu sudah impas dengan produksi yang ia hasilkan. Hanya saja kenyataannya, si pekerja menyerahkan semua tenaga dan waktunya untuk si kapitalis. Enam hari yang lain sebetulnya gratis diambil dan dipakai begitu saja oleh si kapitalis dan si pekerja tidak menyadari bahwa sesungguhnya, kerja-lebih itulah yang menghasilkan apa yang disebut nilai-lebih bagi suatu barang[vi]. Akumulasi modal dalam konteks ini bukan berasal dari membeli dan kemudian menjual dalam pengertian konvensional perdagangan, akan tetapi akumulasi modal berasal dari nilai-lebih dari kerja-lebih yang dipersembahkan oleh pekerja untuk si kapitalis secara cuma-cuma. Inilah yang dimaksud Marx dengan nilai-lebih dalam bukunya Das Kapital. Oleh karena itu, Engels menyatakan bahwa, “…soal pokoknya adalah, bahwa sang kapitalis, di samping kerja yang dibayarnya, juga menarik/mengeduk kerja yang tidak dibayarnya”[vii]. Dalam pandangan Marx, eksploitasi tenaga kerja dalam corak produksi kapitalis bersumber dari sini: bahwa proses kerja terdiri dari: 1). Pekerja berada di bawah kontrol kapitalis; 2). Produk menjadi milik kapitalis karena proses kerja itu telah dimiliki sepenuhnya oleh si kapitalis itu sendiri, yaitu tenaga-kerja dan alat produksi[viii]. Maka dari Engels menilai bahwa, “sebagai suatu proses penciptaan nilai, proses kerja itu menjadi suatu proses produksi nilai-lebih pada saat ia diperpanjang melampaui titik di mana ia menyetorkan suatu ekuivalen (kesetaraan) sederhana untuk nilai tenaga-kerja yang dibayar itu”[ix].

 

Dialektika Dan Kontradiksi Kelas

  SEPERTI yang sudah dijelaskan di atas, Karl Marx (1818-1883) adalah filosof yang menyerang sistem ekonomi (corak produksi) kapitalis atau kapitalisme. Bagi Marx, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang mementingkan akumulasi modal melalui penciptaan nilai-lebih yang dihasilkan oleh sarana produksi dan tenaga kerja yang dikuasai sepenuhnya oleh satu atau beberapa orang. Marx melihat bahwa tenaga kerja adalah modal yang diobyektifikasi namun si pekerja tidak menyadari itu sepenuhnya kecuali hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah. Di sinilah terjadi apa yang disebut eksploitasi. Marx menulis, “Si pekerja adalah manifestasi subjektif dari kenyataan bahwa modal adalah manusia yang sepenuhnya hilang bagi dirinya sendiri, tepat sebagaimana modal adalah manifestasi objektif dari kenyataan bahwa kerja adalah manusia yang hilang bagi dirinya sendiri. Tetapi kemalangan si pekerja adalah bahwa dirinya adalah suatu modal yang hidup, dan karenanya suatu modal dengan kebutuhan-kebutuhan—modal kehilangan bunganya, dan karena itu kehidupannya, setiap saat ia tidak bekerja”[x].

 

Proses kerja atau ekonomi adalah sentrum pemikiran filosofis Marx. Maka dari itu, agama, begitu juga ideologi, sistem politik, hukum, sosial dan budaya, demikian Marx menilai, adalah supra-struktur yang ditentukan (dideterminasi) oleh basis-struktur yang bernama ekonomi[xi]. Dalam kalimat lain, ekonomilah fondasi dari semua kesadaran internal (psikis) dan eksternal (fisik) manusia. Begitu juga, seperti apa dan bagaimana wajah sebuah masyarakat ditentukan (dideterminasi) oleh corak produksi (sistem ekonomi) masyarakat tersebut. Para pengkritik Marx menyebutnya determinisme ekonomi. Pendapat Marx tentang ekonomi sebagai fondasi keberadaan dan kesadaran manusia didasarkan pada satu tesis filosofis yang menyatakan bahwa realitaslah yang membentuk kesadaran dan bukan sebaliknya,[xii] sebagaimana yang pernah dirumuskan Hegel. Atas dasar tesis filosofis ini, sistem filsafat Marx disebut materialisme mengingat realitas eksternal tentunya bersifat materi, sementara realitas internal yang bernama kesadaran bersifat abstraksi dari materi. Cara pandang materialisme ini, yaitu pandangan-dunia (world-view) yang menganggap bahwa materilah asas segala sesuatu, sebetulnya sudah pernah dirumuskan oleh Ludwig Fuerbach (1804-1872)[xiii]. Selanjutnya di tangan Marx materialisme ini ditambahkan label ‘historis’ dan ‘dialektis’ di belakangnya, di samping Marx mengklaimnya bersifat ilmiah, yang membedakannya dari Fuerbach. Filsafat model Marx ini selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan materialisme-historis-dialektis. Meskipun demikian, Marx sendiri menggunakan istilah metode dialektika untuk menyebut sistem filsafatnya yang berbeda dari dialektika Hegel[xiv].    

 

Dengan tidak bermaksud untuk mereduksi dan menghilangkan signifikansi rumusan Marx, secara singkat dapat dikatakan bahwa secara teoritis, filsafat materialisme-historis-dialektis berpandangan bahwa proses perkembangan masyarakat, di samping dapat ditelusuri secara historis, juga berkembang dari masyarakat sederhana (primitif), lalu beranjak ke masyarakat yang diwarnai oleh sistem perbudakan, kemudian bergeser menjadi masyarakat yang feodalistik (feodalisme), dan kemudian berkembang menjadi masyarakat yang kapitalistik (kapitalisme). Sementara istilah dialektika pada filsafat marx bersumber dari konsep dialektika Hegel. Akan tetapi menurut Marx, dialektika Hegel sangat abstrak dan tidak-membumi. Oleh karena itu, dialektika tersebut perlu diturunkan ke bawah agar lebih kongkrit. Dialektika dalam konsep Hegel bermakna kontradiksi tesis, anti-tesis, dan sintesis. Secara sederhana, dialektika model Hegel ini dapat dirumuskan seperti ini: ada bertindak sebagai tesis; kemudian dilawankan dengan tiada yang bertindak sebagai antitesis; kontradiksi (pertentangan) antar keduanya (ada dan tiada) kemudian menghasilkan menjadi yang bertindak sintesis[xv]. Demikian seterusnya; sintesis akan selalu menjadi tesis baru. Di tangan Marx, dialektika tetap bermakna logika kontradiksi, hanya saja kontradiksi tersebut lebih nyata, lebih kongkrit, yaitu kontradiksi dua kelas dalam masyarakat: kelas penindas (kapitalis-borjuis) versus kelas tertindas (proletar)[xvi] yang akan melahirkan masyarakat baru.

Selain itu, materialisme yang dialektis, demikian menurut Woods dan Grant, juga berarti proses perubahan, pergerakan, dan perkembangan materi yang terus-menerus, misalnya molekul, atom, dan partikel-partikel sub-atomik yang terus bertukar tempat dalam pergerakannya[xvii]. Dengan demikian, dialektika adalah penjelasan tentang perubahan dan pergerakan yang melibatkan kontradiksi dan hanya melalui kontradiksi, pergerakan dan perubahan akan terjadi[xviii]. Artinya, dalam konteks ini, selain kontradiksi tidak akan ada perubahan dan pergerakan; kontradiksilah sumber perubahan dan pergerakan itu sebagaimana yang terjadi pada fenomena alam, entah itu dalam skup yang paling terkecil, seperti proton-elektron, maupun dalam skup yang paling besar, jagad raya ini[xix]. Semua yang ada, demikian materialisme dialektis berpendapat, adalah gerakan-gerakan materi. Menolak logika formal secara implisit dan sebaliknya menerima logika dialektis secara eksplisit, Woods dan Grant membandingkan keduanya sebagai: yang satu hukum mekanika klasik, yaitu logika formal, dan yang lainnya hukum mekanika kuantum, yaitu logika dialektis. Dengan mengutip Engels, logika dialektika terdiri dari tiga dasar hukum yaitu: 1). hukum peralihan dari kuantitas menjadi kualitas atau sebaliknya; 2). hukum tentang dua kutub berlawanan yang saling merasuki; 3). hukum dari negasi (penolakan) dari negasi[xx]. Dengan kata lain, sejauh ini dapat dicermati bahwa dialektika dalam filsafat Marx adalah hukum kontradiksi yang niscaya terjadi karena pada prinsipnya dunia adalah “sesuatu yang mengalir” alias perubahanlah yang niscaya selalu terjadi. Hanya saja, kontradiksi menurut filsafat sosial Marx adalah kontradiksi kelas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejarah dunia sebetulnya adalah sejarah pertentangan kelas.  

 

Karena kontradiksi tersebut, level masyarakat kapitalis sekarang ini, demikian Marx meyakini, nantinya akan mendorong perkembangan masyarakat selanjutnya, yaitu fase masyarakat yang sosialistis dan komunis (masyarakat komunal). Persoalannya, untuk mencapai fase tersebut, dibutuhkan perjuangan fisik berupa revolusi, yaitu pengambil-alihan sumber-sumber dan alat-alat produksi kapitalis untuk dimanfaatkan secara bersama-sama (kolektif)[xxi]. Inilah harapan kontradiksi kelas itu. Maka tidak heran jika para penganut paham marxisme-leninisme misalnya, berpendapat bahwa hukum materialisme historis adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal[xxii]. Oleh sebab itu, demikian para penganut paham marxisme-leninisme meyakini, perjuangan kelas (kontradiksi kelas proletar dengan kelas borjuis kapitalis) tidak dapat dihindari. Kaum buruh, sebagai kelas proletar, dengan kesadaran revolusioner mereka, harus menggulingkan kekuasaan kelas kapitalis. Dan menurut paham marxisme-leninisme, penggulingan kelas kapitalis yang berasal kesadaran kelas yang revolusioner tersebut, hanya dapat dicapai melalui pengorganisasian serikat-serikat buruh yang berada di bawah panji partai yang memiliki kedisiplinan dan kepemimpinan yang bersifat sentralistis[xxiii]. Diktator proletariat yang pernah diterapkan di Soviet adalah cetak-biru dari kepemimpinan sentralistik tersebut. Dalam bahasa yang lebih halus, ia disebut sentralisme-demokrasi. Apapun itu, faktanya bahwa sistem politik dan kepemimpinan yang dicapai oleh perjuangan revolusi kelas ini justru melahirkan kelas elit baru, yang celakanya, justru lebih otoriter dari yang sebelumnya.

 

Filsafat Marx yang bersifat historis itu diadopsi kemudian oleh generasi Neo-Marxis, yaitu Mazhab Frankfurt (Franfurterschule) seperti Hokheimer, Adorno, Marcuse, dan Habermas. Mazhab Frankfurt menerapkan pentingnya aspek historisitas ke dalam Teori Kritis Emansipatoris mereka (bersikap curiga terhadap zaman, berpikir historis, dan korelasi yang kuat antara teori dan praksis serta fakta dan nilai)[xxiv].

           

Modifikasi Diri Kapitalisme            

  KAPITALISME KLASIK telah lama berlalu. Ia kini digantikan oleh kapitalisme tahap selanjutnya atau kapitalisme-pasca industrial[xxv]. Marx, yang dulunya sangat mendambakan momen-momen kehancuran kapitalisme akibat over produksi yang berimbas pada kontradiksi internal sistem kapitalisme itu sendiri, bisa dikatakan meleset seratus persen[xxvi]. Di samping itu, wajah kapitalisme yang menakutkan dan mengerikan itu, sebagaimana yang pernah digambarkan Marx, kini tampak lebih humanis[xxvii]. Terlebih lagi, revolusi sosialis yang pernah dicita-citakan Marx dan Engels sebagai batu loncatan menuju masyarakat komunal (masyarakat komunis) justru tidak pernah terjadi di negara-negara industri, seperti di Eropa Barat dan Amerika. Sebaliknya, analisis ekonomi-politik Marx kemudian hanya menjadi sebentuk ideologi absolut yang melahirkan rezim otoritarianisme yang kekejamannya melebihi kekejaman kapitalisme seperti misalnya yang terjadi pada Lenin, Stalin, dan Mao Tse Tung. Selain itu, himbauan Marx agar kaum buruh sedunia bersatu, kini juga tidak lebih dari sebuah slogan kering, tidak bermakna apa-apa, kecuali tampak seksi ketika diteriakkan oleh demonstrasi buruh di jalan-jalan. Kenyataannya slogan itu tidak merubah apa-apa, padahal Marx pernah berkata bahwa para filsuf hanya menginterpretasikan dunia, padahal yang penting adalah mengubahnya.

 

Faktanya, kapitalisme menyadari betul arti penting kritik Marx pada awal-awal pertumbuhannya. Kapitalisme mampu memodifikasi-dirinya sehingga sekarang tampak lebih humanis. Eksploitasi sebagaimana dipahami Marx misalnya, sekarang ini bisa dikatakan hampir tidak terjadi lagi. Di negara-negara industri, kesejahteraan buruh kini banyak yang meningkat, di samping waktu kerja yang sangat fleksibel, liburan, serta asuransi-asuransi, begitu juga dengan tabungan hari tua, juga dapat mereka nikmati dengan baik. Kepemilikan saham bersama umpamanya, juga sudah diterapkan di beberapa perusahaan. Dengan kata lain, eksploitasi nyaris sudah tidak terjadi meskipun watak eksploitatif kapitalisme kini bergeser ke arah yang lain. Dalam konteks ini, Marx gagal total. 

 

Menurut para pengkritik Marx, ada perbedaan yang mendasar antara pemikiran Marx awal, yang biasa disebut Marx Muda, dengan pemikiran Marx kemudian, yang biasa disebut Marx Tua. Menurut para pengkritik ini, Marx Muda memperlihatkan atau menampilkan karakter (sosok) Marx sebagai seorang filosof yang humanis, sementara Marx Tua lebih memperlihatkan atau menampilkan karakter Marx sebagai seorang propagandis dan ideolog. Pembedaan Marx Muda dan Marx Tua terutama terjadi karena kelahiran Das Kapital dan Manifesto Komunis. Di samping itu, determinisme ekonomi Marx juga mereduksi faktor-fator emansipasi manusia dalam soal kerja. Yang terakhir ini nantinya dikritik oleh Neo-Marxis.

 

Bagaimanapun, Marx, melalui pemikiran filosofis ekonomi-politiknya, telah menelanjangi sistem ekonomi kapitalis yang eksploitatif secara vulgar. Terlepas dari berhasil-tidaknya perubahan radikal yang digagas Marx dan Engels dalam manifesto mereka, kapitalisme, sebagai sistem dan kekuatan ekonomi yang mengedepan akumulasi modal, masih terus eksis hingga detik ini. Dan meskipun kapitalisme terkini banyak memperbaiki diri dan karena itu ia kemudian tampak lebih humanis, pertanyaan selanjutnya, apakah emansipasi manusia, atau keterlepasan manusia dari siklus dan belenggu eksploitasi, juga telah hilang bersamaan dengan modifikasi-diri kapitalisme itu?

 

Kapitalisme Mutakhir: Pasar Dan Konsumerisme                       

  LOGIKA kapitalisme pasca industrial (kapitalisme mutakhir) tidak lagi berkutat pada produksi atau bukan lagi logika produksi. Akan tetapi, logika kapitalisme pasca industrial bekutat pada konsumsi atau logika konsumsi[xxviii]. Dalam bahasa yang lebih lugas, konsumerisme dan pasar adalah dua kata kunci yang terkait dengan perkembangan dan keberadaan kapitalisme pasca industrial.

 

Pergeseran tata nilai di dalam masyarakat sekarang ini juga banyak disebabkan oleh hegemoni iklim kapitalisme mutakhir. Hampir segala sesuatunya diukur dengan materi, dalam hal ini uang. Paradigma masyarakat secara umum banyak dibentuk oleh materialisasi yang digalakkan oleh iklim kapitalisme mutakhir. Kenyataannya, masyarakat pada umumnya mengukur kesuksesan seseorang dari seberapa banyak materi yang ia miliki. Titik!

 

Kembali ke soal modifikasi-diri kapitalisme. Dalam pandangan Mazhab Frankfurt, borjuasi modern Amerika telah berhasil menggunakan rasio instrumental (istilah mazhab Frankfurt) untuk melenyapkan krisis internal di dalam tubuh kapitalisme sebagaimana yang pernah diramalkan Marx[xxix]. Kenyataan ini juga menyangkut soal modifikasi-diri kapitalisme atau dalam kalimat lain, kemampuan adaptif kapitalisme sehingga ia tak lekang oleh perkembangan ruang dan waktu. Ironisnya, demikian pandangan Mazhab Frankfurt, kelas pekerja atau buruh yang bertindak sebagai agen revolusi dalam logika Marx dan para penganut paham marxisme lainnya, kelas yang diharapkan bisa menggulingkan kekuasaan kapitalisme, justru telah terintegrasi dengan sendirinya ke dalam sistem kapitalisme itu sendiri secara sukarela[xxx]. Mengapa ini bisa terjadi? Menurut Mazhab Frankfurt, hal itu disebabkan karena kapitalisme mampu mempertahankan kontinuitas keberadaannya melalui penciptaaan budaya konsumerisme. Kemampuan untuk menciptakan budaya konsumerisme disebabkan oleh kelihaian agen-agen kapitalis itu dalam menerapkan rasio instrumental. Dengan menerapkan kemampuan rasio instrumental, kapitalisme pasca industrial mampu menciptakan rasio penyeragaman dan pembendaan kesadaran manusia dengan cara menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu[xxxi]. Rasio instrumental adalah rasio yang memandang realitas sebagai potensi yang dapat dimanipulasi, ditundukkan, dan dikuasai secara total[xxxii]. Secara sederhana, jangkauan dan cara kerja rasio instrumental dapat diilustrasikan seperti ini: seorang investor berjalan-jalan ke pantai Canggu. Sang investor menyaksikan betapa indahnya pemandangan pantai Canggu. Pada saat itu, rasio instrumentalnya pun kemudian bekerja secara simultan; ia mulai mengkalkulasi kira-kira berapa harga lahan di wilayah pantai itu, berapa luas yang ia perlukan, dan memikirkan apa yang cocok untuk dibangun di sana, dan seterus-seterusnya. Setelah itu, ia memanggil semua insinyurnya untuk menghitung berapa besar jumlah investasi yang bisa ditanam di pantai yang indah itu, sekaligus menghitung berapa keuntungan yang bisa ia raup jika investasi itu berjalan. Bahwa kemudian wilayah itu sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat, dilindungi oleh perda (peraturan daerah), dan bisa dikatakan sakral bagi masyarakat setempat karena di sekitar itu ada Pura tinggalan leluhur misalnya, semua itu tidak penting. Yang terpenting bagi rasio instrumental saat itu adalah bagaimana wilayah itu ditundukkan dan dikuasai secara total karena di sana ada potensi untuk membangun mesin uang dan kerajaan bisnis properti. Beginilah logika kapitalisme mutakhir itu!

 

Selain itu, manusia dalam iklim kapitalisme pasca industrial kehilangan otonominya sebagai individu yang merdeka, dan sebaliknya larut ke dalam apa yang disebut massifikasi (budaya massa) yang seleranya sudah lebih dulu ditentukan oleh kepentingan-kepentingan agen yang menciptakan budaya konsumerisme tersebut—kapitalisme. Gahral Adian menulis, “Logika kapitalisme tidak lagi tentang bagaimana cara yang paling efesien memproduksi barang, melainkan bagaiamana sebuah barang dapat dikonsumsi sebanyak-banyaknya”[xxxiii]. Karena itulah kemudian, demikian kata Gahral Adian, logika baru kapitalisme ini menghasilkan agen-agen credit card, periklanan, dan desain[xxxiv].

 

Konsumerisme sedemikian rupa telah dikonstruksi dengan apik. Dalam konteks ini, pemasaran tentu membutuhkan metode-metode yang jitu untuk menarik minat pembeli secara massif. Di titik ini, diciptakanlah imej-imej (images) atau pencitraan-pencitraan yang menggantikan realitas yang sesungguhnya, dan imej-imej ini dengan sangat mudah dapat dijumpai dan ditemukan di dalam kebudayaan pop (popular culture) saat ini[xxxv]. Tentang imej-imej ini, Roland Barthes memperkenalkan apa yang disebut glamor kultural[xxxvi]. Glamor kultural model Barthes adalah sebentuk gagasan yang menggantikan sebuah objek; dalam arti kata, yang terpenting dalam hal imej-imej adalah gagasan tentang objek, dan bukan objek itu sendiri. Misalnya, iklan-iklan kini menampilkan imej-imej yang mutakhir tentang sebuah barang, katakanlah minuman vitamin C. Visualisasi iklan minuman vitamin C tersebut menampilkan misalnya perempuan cantik dan erotis dalam sebuah suasana yang sangat berkelas. Visualisasi ini menandakan gagasan tentang minuman vitamin C tersebut bahwa minuman itu cocok bagi mereka yang berkelas.

 

Budaya konsumerisme yang dikonstruksi melalui penciptaan imej dalam iklim atau atmosfir kapitalisme pasca industrial merupakan wahana atau alat untuk memperluas jangkauan pasar. Seperti yang sudah disebutkan di atas, ideologi kapitalisme pasca industrial saat ini adalah bagaimana agar semua manusia di bumi ini bisa (dan harus!) mengkonsumsi produk-produk tertentu sebanyak-banyaknya.

 

Melalui imej yang disuguhkan di layar TV setiap menit tanpa jeda, begitu juga imej-imej yang disuguhkan di radio-radio, koran-koran, majalah-majalah, brosur-brosur, pamflet-pamflet, spanduk-spanduk, dan baliho-baliho, publik dipaksa untuk mengkonsumsi produk. Tak ada pilihan lain, kecuali membeli, entah produk merek ini atau merek itu. Selera publik pun bisa diciptakan sedemikian rupa. Dalam kalimat lain, seperti apa dan bagaimana mode dan selera hari esok, sudah lebih dulu ditentukan dari ruang produksi, yang diciptakan oleh pakar-pakar pemasaran jebolan dalam dan luar negeri, dan kemudian disebar-luaskan melalui media massa, cetak maupun elektronik.

 

Dalam iklim konsumerisme yang ganas, publik disodorkan perasaan gengsi akan barang tertentu. Seorang individu yang tidak mengkonsumsi produk tertentu akan merasa terasing dari situasi dan kondisi di mana barang tersebut telah merajai pasaran dan hampir dikonsumsi oleh semua orang. Perempuan berkulit putih misalnya, demikian visualisasi yang sering kita jumpai di televisi setiap menit dan setiap hari, adalah sosok perempuan yang ideal. Visualisasi gagasan tentang perempuan ideal ini ditampilkan terus-menerus tanpa henti sehingga, imej yang tercipta di dalam benak publik secara luas adalah perempuan berkulit putih adalah cantik. Di sini kita bisa temukan imej telah menggantikan realitas yang sesungguhnya. Mengapa? Pertanyaan selanjutnya adalah, lalu bagaimana dengan perempuan yang berkulit sawo matang atau hitam? Itu bukanlah masalah besar karena telah disiapkan krim pemutih cap dodol untuk mengatasi kulit sawo matang dan hitam! Sesungguhnya, orientasi imej perempuan berkulit putih sama dengan cantik nan menawan adalah penjualan krim pemutih cap dodol. Lagi-lagi, di sini kita bisa menemukan logika pasar, bahwa sesungguhnya gagasan tentang krim pemutih itulah yang dibeli dan bukan substansi barang. Contoh ini dapat diperpanjang dengan produk-produk lainnya, entah itu rokok, mobil, properti, sepeda motor, makanan, minuman, pakaian, alat komunikasi, alat transportasi, dan lain sebagainya.

 

Jika kita mencermati konsep alienasi yang dirumuskan Marx pada periode kapitalisme klasik (awal), sesungguhnya alienasi itu kini tertransformasi ke dalam diri manusia hampir secara umum. Alienasi yang terjadi kini adalah, bahwa konsumerisme telah mengalihkan kesadaran manusia dari kesadarannya yang sebenarnya. Bagaimana tidak? Dalam iklim konsumerisme seperti sekarang ini, keinginan manusia tidak lagi berasal dari dirinya secara utuh dan independen (merdeka), akan tetapi, keinginannya, berikut selera dan eksistensinya, telah digantikan oleh kesadaran massal-kolektif yang diciptakan dan ditentukan oleh agen-agen tertentu yang berasal dari luar dirinya. Dalam konteks ini, alienasi Marx masih relevan adanya meksipun pengertiannya sedikit bergeser. Artinya, alienasi dalam konteks kapitalisme mutakhir adalah sebentuk kesadaran (akan) kebendaan. Kesadaran kebendaan tiada lain kecuali itu dihasilkan dari kebutuhan-kebutuhan palsu. Kebutuhan palsu adalah kebutuhan yang disodorkan berikut imej-imej yang menyertainya. Dengan kata lain, kapitalisme mutakhir menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang divisualisasikan melalui imej-imej, sehingga kesadaran manusia yang sebenarnya, kesadaran akan dirinya yang otonom dan bebas secara eksistensial, bergeser menjadi kesadaran kebendaan yang pada akhirnya dibelenggu oleh kesadaran palsu tersebut.

 

“Agama Pasar” Dan Selebritis Agama

  DALAM iklim kapitalisme pasca industrial, batasan yang sakral dan yang profan sudah semakin kabur. Idealnya, agama memiliki dimensi sakral tertentu, entah itu ritualnya, ajarannya, maupun gagasan tentang ketuhanannya. Namun ironisnya, dalam iklim kapitalisme mutakhir (pasca industrial) sekarang ini, sakralitas agama telah diprofankan sedemikian rupa oleh dikte pasar.

 

Dalam Tajuk Rencana-nya, koran Bali Post menyinggung perlunya kontekstualisasi perayaan Galungan 2008 ini terhadap beberapa hal, dan salah satunya adalah isu agama dan pasar[xxxvii]. Di bagian lain, yakni pada kolom Opini, sebuah artikel yang berjudul Selebritisme Agama Marak, Spritualisme Mati Suri[xxxviii] menyoroti perilaku umat Hindu Bali pada umumnya ketika melakukan ritual-ritual upacara keagamaan yang terkesan lebih menampakkan ritualisme yang berbau “wah”, megah, dan terkesan seperti “pesta”. Dalam opini tersebut, I Gusti Ketut Widana menulis bahwa, “Dalam bahasa yang lebih lugas, ritual yadnya menjadi identik dengan party, membuat pesta: pertama untuk Ida Bhatara dengan berbagai tingkatan “sesajinya” dan kedua dengan porsi yang lebih banyak, enak dan nikmat untuk manusianya dengan “sajian” hidangan masa kini”[xxxix].

 

Terlepas dari sikap pro-kontra antara melaksanakan upacara keagamaan yang sarananya lebih sederhana ataukah yang sarananya megah, artikel ini tidak berurusan dengan dukung-mendukung salah satu di antaranya. Sebaliknya, konteks artikel adalah untuk menyodorkan sebuah contoh bahwa, dari apa yang disaksikan oleh si penulis tersebut (I Gusti Ketut Widana), ada satu hal yang sekarang sedang terjadi secara fenomenal di masyarakat kita, yaitu pergeseran paradigma dan cara beragama di dalam iklim masyarakat yang dihegemoni oleh kapitalisme mutakhir (pasca industrial).

Saya ingin mengajukan contoh lain selain Hindu di atas. Dalam konteks agama Islam misalnya; idealnya, ritual haji adalah melaksanakan salah satu rukun Islam meskipun hanya sekali seumur hidup. Diktum kitab sucinya menyatakan demikian, di samping seruan bahwa, pelaksanaan ibadah haji hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Kata mampu dalam konteks ini berada dalam pengertian luas dan sempit, misalnya punya uang yang lebih dari cukup. Persoalannya adalah di beberapa daerah, haji telah menjadi semacam prestise untuk mengingkatkan status sosial seseorang. Seseorang yang telah menyandang predikat haji, secara otomatis akan mendapatkan perlakuan yang lebih di dalam masyarakat, yang berbeda dari perlakuan kepada yang belum menyandang predikat haji di depan namanya. Yang terjadi di sini bukan soal perlakuan lebih itu berhubungan dengan tingkat relijiusitasnya maupun tingkat intelektualitasnya tentang Islam. Akan tetapi, gagasan tentang haji mengutip konsep Barthes, adalah sesuatu yang identik dengan materi atau singkatnya kekayaan. Kenyataan seperti ini bisa kita saksikan misalnya pada masyarakat Bugis, di Sulawesi-Selatan. Di Sulawesi Selatan, haji adalah prestise dan status sosial yang sama sekali tidak berhubungan dengan tingkat relijiusitas dan intelektualitas keagamaan seseorang. Jika misalnya ada sebuah pelaksanaan upacara adat, katakanlah upacara pernikahan, tamu, utamanya yang perempuan, yang tidak melekat simbol-simbol haji di kepalanya, dengan sendirinya akan langsung menuju ke belakang (dapur) untuk mengurusi piring, gelas, dan segala tetek-bengek pesta lainnya. Akan tetapi, jika tamu tersebut datang lengkap dengan atribut-atribut kehajiannya, apalagi jika dilengkapi dengan perhiasan-perhiasan yang dibeli di Mekkah, maka ia akan dipersilahkan duduk di tempat yang lebih tinggi dan dilayani dengan sebaik-baiknya.

 

Kapitalisme mutakhir bagaimanapun telah mempengaruhi paradigma dan cara beragama manusia saat ini. Di layar televisi kita semua pernah atau sering menyaksikan apa yang sering diistilahkan oleh publik acara “jualan ayat”. AA Gym atau Ustadz Abdullah Gymnastiar, Ustadz Jefry Al-Bukhori, dan Ustadz Yusuf Mansur adalah beberapa nama yang sudah sangat akrab di mata dan telinga para pemirsa televisi. Salahkah orang-orang ini ketika menyampaikan syiar agama melalui layar TV? Tentu tidak. Dengan kata lain, soalnya bukanlah salah atau tidaknya da’i-da’i muda yang berpenampilan menarik ini menggunakan media televisi untuk berceramah. Akan tetapi, bahwa di dalam iklim kapitalisme mutakhir, agama bukanlah soal apa yang seharusnya ia sampaikan kepada masyarakat. Sebaliknya, dalam iklim kapitalisme mutakhir yang berorientasi pada pasar dan konsumerisme itu, agama pun bisa dijadikan wahana atau “alat” atau bisa dikatakan, agama dapat dimanipulasi untuk kepentingan kapital. Yang pertama, iklan-iklan atau reklame-reklame produk tertentu bertebaran di sela-sela acara jualan ayat ini. Artinya, di saat itu bisa dipastikan banyak pemirsa televisi yang sedang menyaksikan acara tersebut. Kedua, acara syiar agama dalam media televisi lebih menampakkan dan menonjolkan aspek entertainnya (hiburan) dari pada aspek instrinsik keagamaannya. Aspek entertain dalam acara agama tentu berbeda dari aspek entertain selain acara agama. Aspek entertain yang melekat pada acara agama bisa dilihat misalnya pada artikulasi penyampaiannya, bobot materi yang disampaikan, dan juga penampilan fisik serta latar-belakang si penyampai. Karena iklim kapitalisme mutakhir juga telah menciptakan semangat pragmatisme yang meluas di dalam masyarakat, maka acara agama yang bersifat entertainlah yang lebih diminati ketimbang acara agama yang tidak bernuansa entertain. Hal ini dapat dibedakan misalnya antara antusiasme pemerisa yang mengikuti acara agama model Ustadz Jefry Al-Bukhori dengan antusiasme pemirsa yang mengikuti acara agama model Dr. M. Quraish Shihab. Selain itu, aspek entertain dalam acara syiar agama juga dicitrakan sedemikian rupa sehingga umumnya da’i-da’i muda yang ditampilkan adalah mereka yang menarik perhatian mata secara fisik. Belum lagi misalnya jika itu dikait-kaitkan dengan latar-belakang sang da’i yang konon kabarnya pernah terjerumus ke lembah maksiat. Semua ini memiliki nilai jual tersendiri. Itulah sebabnya mengapa da’i-da’i muda sangat laris seperti kacang goreng saat ini meskipun apa yang ia sampaikan sebetulnya tidak terlalu dalam sebagaimana ulasan ulama yang betul-betul memiliki kedalaman ilmu agama Islam. Yang terang, da’i-da’i muda yang disebutkan di atas telah memiliki fans-club ibu-ibu tua maupun muda yang sangat luas. Oleh sebab itu, sebutan selebritis agama sangat tepat untuk mereka. (*)

 

 

 

 

 

*) Esais, mantan aktifis Gerakan Mahasiswa Sosialis Bali (GMS-Bali) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Denpasar, sedang menempuh studi Filsafat Hindu pada Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar – Bali  

 

 

 

 

 





[i] Dikutip dari Richard T. Schaefer, 1986, Sociology, (Second Edition), Von Hoffmann Press, USA, hal.  332, (Terjemahan bebasnya: “Agama adalah keluh-kesah perasaan tertekan yang diciptakan, perasaan akan sebuah dunia yang hampa… Agama adalah candu masyarakat”—penulis) 

[ii] Dikutip dari, Frederick Engels, 2002, Frederick Engels Tentang Das Kapital Marx (On Marx’s Capital), Hasta Mitra, Jakarta, hal. 3

[iii] Karl Marx,, tanpa tahun, Naskah-Naskah Ekonomi dan Filsafat 1844, (Seri Buku Ilmiah), Hasta Mitra, Jakarta, hal. 86; lihat juga, Erich Fromm, 2001, Konsep Manusia Menurut Marx, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 58 – 59 

[iv] Frederick Engels, 2002, Frederick Engels Tentang… hal. 6

[v] Ibid

[vi] Ibid

[vii] Ibid

[viii] Ibid, hal. 78

[ix] Ibid, hal. 80

[x] Karl Marx,, tanpa tahun, Naskah-Naskah…, hal. 86

[xi] Lihat misalnya, G. Plekhanov, 2002, Masalah-Masalah Dasar Marxisme, (Seri Buku Ilmiah), Hasta Mitra, Jakarta, hal. 49; George Ritzer-Douglas J. Goodman, 2007, Teori Sosiologi Modern, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hal. 29 – 31; Richard T. Schaefer, 1986, Sociology, Von Hoffmann Press, USA, hal. 13 – 14 dan 18; Frans Magnis-Suseno, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta, hal. 132; Donny Gahral Adian, 2006, Percik Pemikiran Kontemporer Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, hal. 100 – 102 

[xii] G. Plekhanov, 2002, dalam ibid, hal. 38

[xiii] Lihat, Robert C. Solomon & Kathleen M. Higgins, 2002, Sejarah Filsafat, Bentang Budaya, Yogyakarta, hal. 400 dan 415; Dr. Harun Hadiwijono, 1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Kanisius, Yogyakarta, hal. 117  

[xiv] Lihat, Erich Fromm, 2001, Konsep Manusia…, hal. 14

[xv] Lihat, Dr. Harun Hadiwijono, 1980, Sari Sejarah…, hal. 99 – 101

[xvi] Lihat, Tan Malaka, 2000, MADILOG, Teplok Press, Jakarta, hal. 140

[xvii] Alan Woods & Ted Grant, 2006, Reason in Revolt Revolusi Berpikir Dalam Ilmu Pengetahuan Modern, IRE Press, Yogyakarta, hal. 39

[xviii] Ibid, hal. 37

[xix] Tan Malaka, 2000, MADILOG…hal. 272 – 274

[xx] Opcit, hal. 41; lihat juga Tan Malaka, 2000, MADILOG…hal. 284 – 287 

[xxi] Lihat, bagan “Perkembangan Materialisme Historis”, dalam Thomas Meyer, 2000, Sosialisme Demokratis dalam 36 Tesis, Perubahan Sosial dan Demokrasi, Friedrich Ebert Stiftung, Jakarta, hal. 59

[xxii] Ibid, 57

[xxiii] Ibid, hal. 58

[xxiv] Lihat, Donny Gahral Adian, 2006, Percik Pemikiran Kontemporer Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, hal. 46

[xxv] Donny Gahral Adian, 2006, Percik …, hal. 56 – 64

[xxvi] Lihat, Frans Magnis-Suseno, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta, hal. 143

[xxvii] Lihat misalnya, Bernard Murchland, 1992, Humanisme dan Kapitalisme Kajian Pemikiran tentang Moralitas, Tiara Wacana, Yogyakarta, hal. 84 – 90 , lihat juga bagian akhir buku ini yang memberikan gambaran integral tentang kapitalisme yang humanistic pada hal. 93 – dst

[xxviii]Donny Gahral Adian, 2006, Percik… hal. 62 

[xxix] Ibid, hal. 52

[xxx] Ibid

[xxxi] Ibid, hal. 56 – 57

[xxxii] Ibid, hal. 54

[xxxiii] Ibid, hal. 63

[xxxiv] Ibid

[xxxv] Ibid

[xxxvi] Lihat Richard Harland, 2006, Strukturalisme Pengantar Komprehensif kepada Semiotika, Strukturalisme, dan Postrukturalisme, Jalasutra, Yogayakarta, hal. 74

[xxxvii] Lihat, Bali Post, Selasa Wage, 22 Januari 2008, hal. 7

[xxxviii] Ibid

[xxxix] Ibid

Etika-Ahimsā Dalam Hindu Dan Islam

Oleh: Yudhis Muh. Burhanuddin*)

 
    ETIKA sudah dikenal sejak zaman Sokrates[1]. Etika adalah sebentuk gagasan yang merumuskan tentang kelaziman tertentu yang seharusnya dilakoni oleh manusia dalam hidupnya. Dengan kata lain, etika, sebagai cabang filsafat, membicarakan soal-soal praktis hidup. Menurut Richard Lindsay, ada dua bentuk pertanyaan etika: 1). bagaimana seharusnya manusia berperilaku?; 2). apakah ada kebenaran obyektif moralitas?[2]

 

Dua pertanyaan di atas menyangkut dua bentuk etika, yaitu etika normatif dan meta-etika. Ada banyak macam etika yang kini semakin spesifik di bagai disiplin ilmu, misalnya etika kedokteran, etika bisnis, dsb. Agama pun demikian. Agama, yang memiliki sistem etika sendiri, menjawab sekaligus dua pertanyaan Lindsay di atas. Etika agama juga bersifat praktis. Kebenaran obyektif etika agama terletak pada reward and punishment-nya. Salah satu etika praktis agama adalah Ahimsā atau Nir-Kekerasan (non-violence). Pembahasan di bawah ini adalah perbandingan etika Ahimsā dari perspektif Hindu (sebagai ajaran partikular Hindu) dan Islam.

 

Perspektif Hindu

  ETIKA-AHIMSĀ menurut Hindu adalah doktrin Tidak-Melukai (non-injury) makhluk hidup. Doktrin ini sudah sangat lawas dan tersebar, secara eksplisit maupun implisit, di dalam teks-teks suci Hindu (baik Sruti maupun Smrti)[3]. Misalnya sloka suci smrti di bawah ini.

 

Bila orang itu sayang akan hidupnya, apa sebabnya ia itu ingin memusnahkan hidup makhluk lain; hal itu sekali-kali tidak memakai ukuran diri sendiri, segala sesuatu yang akan dapat menyenangkan kepada dirinya, mestinya itulah seharusnya dicita-citakannya

terhadap makhluk lain. (Sarasamusccaya, sloka: 136)[4]

 

Akan tetapi orang yang keadaannya begini, menitis lahir menjadi manusia pada orang yang bernoda, berpenyakitan, berkelakuan jahat, bertabiat menyakiti (membunuh), pendek umurlah diperoleh oleg orang yang berkeadaan demikian, hal ini adalah akibat perbuatannya bengis dulu pada waktu penjelmaannya sebelum ini (yang lampau).

(Sarasamusccaya, sloka: 148)[5]

 

T.W. Rhys Davids berpendapat bahwa ahimsā secara mistis terdapat di dalam kitab sruti Chāndogya Upanisad (3,7)[6]. Sedangkan menurut John McKenzie, ahimsā lebih unik di tangan Gautama dan Mahāvīra[7] dan menjadi National Character, misalnya di tangan Mahatma Gandhi[8]. Memang ahimsā dalam pandangan Gandhi, seperti kata Francis Alapatt, “lebih dari sekadar ungkapan…, yang lebih menekankan aspek ‘tidak’ atau penegasian, dan tidak jarang pula ahimsā dimaknai secara negatif[9].” Memang secara praktis, etika-ahimsā dilaksanakan dengan cara tidak-memakan-daging—“vegetarianisme”. Karena menurut Maharshi Manu, “there is no greater sinner than that man who, though not worshipping the gods or manes, seeks to increase the bulk of his own flesh by the flesh of other beings.” Akan tetapi, menurut beliau lagi, ada pengecualian selama, “He who eats meat, when he honours the gods and manes, commits no sin, whether he has bought it, or himself has killed the animal, or has received it as a present from others[10].”

 

Terlepas dari bagian praktis vegetarianisme di atas, ahimsā adalah salah satu dari lima unsur pengendalian diri (Panca Yama Brata)[11]. Menurut hemat penulis, etika-ahimsā lebih dari sekadar vegetarianisme. Etika-Ahimsā seyogyanya dimulai dari pikiran (manacika), kemudian ke wicara (wacika), dan akhirnya laku (kayika) atau Tri Kaya Parisuda[12]. Menurut Svami Vivekananda manusia terdiri atas manas (pikiran), buddhi (laku), dan atman (ruh)[13]. Di samping itu, di dalam diri manusia juga ada sifat Rajas dan Tamas yang juga mesti diseimbangkan agar tercapai Satvass atau Satwika. Karena ahimsā  adalah pertimbangan etis non-kekerasan dan damai, maka pertama-tama ia dimulai dari ketiga unsur pembentuk kedirian manusia ini. Bagaimanapun juga, makna ahimsā akan kabur jika misalnya, perut sudah tidak terisi daging tetapi perkataan, tingkah laku dan pikiran kita masih terpengaruh oleh sifat-sifat ke-daging-an (hewani). Bahwa ahimsā seharusnya terimplementasi ke dalam Tri Kaya Parisuda dan atau Sukma, afirmasi ini bisa kita lihat di dalam sloka-sloka suci Hindu. Misalnya a.l: dalam Yajur Weda, XXI.61, Tuhan berkata, “Tuhan menciptakan manusia untuk berbicara lemah-lembut dan santun”[14]. Sloka sebelumnya (Yajur Weda, XIX.29), Tuhan berjanji, “Orang-orang yang ramah dan lemah-lembut dalam ucapannya akan memperoleh karunia-Nya”[15]. Dalam Rig Weda, X.19.4, Dia berseru kepada kita semua, “Wahai umat manusia, satukanlah pikiranmu untuk mencapai satu tujuan dan satukanlah hatimu, satukan pikiranmu dengan sesama dan semuanya tinggal dalam pergaulan yang harmonis”[16]. Dan dalam kitab Bhagawadgita, XVI.20, Tuhan mengingatkan kita, “Mereka yang kejam dan pembenci, adalah manusia paling hina di dunia ini, yang Aku campakkan berkali-kali ke dalam kandungan raksasa”[17]. Sloka lain misalnya:

 

Ā cireņa parasya bhūyasīm, wiraparītām wigaņayya cātmanah, kşayayuktimupekşate ŗtī,kurute tatpratikāramanyathā[18].”

               

(Orang budiman yang telah mendalami pengetahuannya tentang dharma akan tidak menghiraukan segala usaha-usaha jahat dan tipu muslihat musuhnya untuk menjatuhkan dirinya. Jika tidak berbudi, ia pasti akan membalas dendam)

Sloka smrti di atas mengafirmasi kualitas dharma dan efeknya kepada Tri Kaya Parisuda. Sebetulnya ada ribuan sloka suci Hindu yang mengafirmasikan nilai-nilai ahimsā dan atau kedamaian. Cukuplah kiranya jika sloka yang dikutip di atas sebagai representasi konteks tulisan ini. Empat sloka suci di atas menegaskan bahwa hakikat ber-ahimsā adalah mengelola Tri Kaya Parisuda atau Sukma agar manusia senantiasa lebih manusiawi[19] agar mencapai “moksartham jagaddhitaya ca iti dharma”—dengan dharma menggapai kesejahteraan di dunia dan di akhirat[20]. Terakhir, pintu masuk pengelolaan ketiga unsur penting manusia ini adalah pengendalian Sad Ripu—enam “musuh” dalam diri manusa[21].

 

Perspektif Islam

  MENCARI kata ahimsā dalam Islam tentu tidak ditemukan. Akan tetapi, mencari makna ahimsā  tentu ada. Islam secara etimologis berarti “kedamaian” atau “damai di luar dan di dalam”[22]. Nabi Muhammad SAW (Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam) datang untuk kedamaian. Di dalam Al-Qur’an Tuhan (dalam Islam disebut Allah) menegaskannya, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau Muhammad kecuali untuk kedamaian bagi semesta[23].” Begitu juga, Nabi Muhammad sendiri menyerukan umatnya, “Hendaklah kalian berakhlaq mulia, karena sesungguhnya Tuhanku mengutusku untuk itu[24].” Islam adalah salah satu “jalan” menuju kampung keselamatan dan kedamaian, di samping jalan-jalan (baca: agama) yang lain.

 

Etika-Ahimsā yang pernah ditunjukkan Nabi Muhammad SAW adalah pada peristiwa “Fathul Makkah” (the opened Mecca) yang banyak ditemukan di dalam literatur-literatur Islam. Saat Fathul Makkah, dengan tegas Nabi Muhammad SAW berkata kepada semua masyarakat Makkah bahwa, “Yang masuk ke dalam Ka’bah, selamat, dan yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan pun, selamat.” Kata ‘Ka’bah’ dan ‘rumah Abu Sufyan’ dalam konteks ini adalah simbol ahimsā. Karena walaupun Muhammad dan pengikutnya waktu itu berpotensi untuk membalas dendam atas perlakuan kasar, intimidasi, bahkan pembunuhan orang-orang Makkah selama bertahun-tahun atas diri beliau, keluarga dan pengikutnya, akan tetapi, beliau sama sekali tidak melakukannya. Sebaliknya, dia memilih damai, etika ahimsā. Dalam bahasa modernnya, “we forgive because we cannot forget[25].” Kisah-kisah sejarah seperti ini, baik tentang diri beliau maupun sahabat-sahabatnya, tersebar di dalam literatur-literatur Islam, entah itu ditulis oleh sejarawan Islam sendiri, sejarawan Kristen, seperti William E. Phipps dan Philip K. Hitti, maupun yang ditulis oleh orientalist, seperti W. Montgomery Watt.

 

Murthadha Muthahari dan Said Hawwa dalam buku mereka memberi contoh Etika-Ahimsā Islam. Memaafkan, membalas budi, dan menyayangi binatang, termasuk anjing, demikian menurut Muthahhari, adalah perbuatan ksatri yang nilainya lebih tinggi dari perbuatan (baik) biasa[26]. Nabi Muhammad, seperti yang dikutip Muthahhari, menyampaikan kepada sepupunya ‘Ali Bin Abi Thalib, tiga hal yang nilainya sangat tinggi. Yang pertama ialah memberi kepada siapa saja yang meminta; kedua, menyambung tali persaudaraan; dan yang ketiga, memaafkan orang yang mendzalimi (berbuat jahat kepada) kita[27]. Tuhan di dalam Al-Qur’an menegaskan bahwa, membunuh satu orang saja, nilainya sama dengan membunuh semua manusia yang ada di muka bumi ini. Begitu juga dengan, menyelamatkan satu orang saja, nilainya sama dengan menyelamatkan semua manusia[28].  Dengan terang dan jelas, ayat ini menegaskan Etika Ahimsā dengan perumpamaan, betapa membunuh tanpa sebab yang jelas adalah perbuatan yang terkutuk dan betapa sebaliknya adalah perbuatan yang sangat mulia. Ayat ini sama dengan konteks Bhagawadgita, XVI.20 yang sudah dikutip di atas.

 

Etika-Ahimsā dalam Islam bersifat implisit[29]. Seperti sekelumit contoh di atas, pesan itu tersebar di dalam Qur’an, teks-teks hadits, dan teladan Nabi Muhammad. Setiap Muslim diharapkan bersikap santun sebagaimana teladan Nabi. Di samping itu, setiap Muslim hendaknya merefleksikan sifat-sifat Tuhan: Pengasih, Penyayang Dan Pemaaf. “Forgiveness,” demikian tulis Chawkat Moucarry, “is a divine promise that reflects who God is.[30]” Lebih lanjut kata Chawkat, “Islamic teachings urges Muslim to seek God’s forgiveness and to forgive those who have wronged them[31].” Apa yang ditulis oleh Chawkat Moucarry ini, seperti yang sudah disebutkan di atas, adalah teldadan Nabi Muhammad SAW seperti yang beliau katakan kepada ‘Ali Bin Abi Thalib—Khalifah IV. Jalan menuju ahimsā menurut Islam adalah pertama-tama dengan mengendalikan hawa nafsu. Nabi Muhammad menegaskan bahwa ‘Jihad’[32] terbesar adalah menaklukkan al-nafs. Marcel A. Boisard mengulang kembali perkataan Muhammad ini[33]. Al-Nafs[34] atau hawa nafsu (Sad Ripu dalam konteks Hindu) adalah musuh di dalam diri manusia. Pengendalian Nafs, sebagai awal Etika-Ahimsā, pertama-tama dengan berpuasa—puasa adalah medium tapa brata.

 

Etika Ahimsā Sekuler (catatan tambahan)

  ADA tiga mazhab besar Filsafat Etika Barat. Yang pertama Hedonism—yang menganggap “kenikmatan” sebagai ukuran etis; yang kedua adalah Hukum Moral—Prinsip Universalitas dan Kemanusiaan sebagai tujuan dan bukan sekadar sarana, tokohnya adalah Immanuel Kant (1724 – 1804); dan yang ketiga adalah Realisasi Diri—virtue sebagai tujuan, tokohnya Plato dan Aristoteles[35]. Istilah Humanisme di kemudian hari banyak dipengaruhi oleh pemikiran Immanuel Kant yang menganggap bahwa ukuran etis adalah prinsip-prinsip kemanusiaan.

 

Etika Ahimsā dalam teori modern adalah Deklarasi Hak Asasi Manusia (10 Desember 1948) sebagai reaksi keras atas kebiadaban Perang Dunia I dan II[36], dan juga bagian dari humanisme. Dengan kata lain, ahimsā dalam dunia modern adalah humanisme yang menentang kekerasan. Perbedaannya dengan Etika Ahimsā menurut agama-agama, adalah ahimsā-non-agama kebenaran obyektifnya bersifat relatif, bisa diperdebatkan, sementara ahimsā-agama (Hindu-Islam dalam tulisan ini) kebenaran obyektifnya berada pada doktrin reward and punisment-nya—Jagadhita (kebahagiaan dunia) dan Moksa (kebahagiaan akhirat).

Kesimpulan

  AHIMSĀ dikenal baik di Hindu maupun di Islam dengan terminologi yang berbeda. Pertama, kata Shanti (Hindu) dan Salam (Islam) adalah tanda bahwa agama-agama ini (dan yang lainnya) menuntun umatnya untuk berpikir, bertutur, dan berlaku damai, menghindari kekerasan. Kedua, Etika-Ahimsā seyogyanya dimulai dari pengendalian hawa nafsu (al-nafs atau Sad Ripu). Mustahil Tri Kaya Parisuda (Sukma) manusia bisa ber-ahimsā bilamana Sad Ripu yang destruktif masih mendominasinya. Dengan kata lain, pengelolaan Sad Ripu—enam “musuh” dalam diri manusa—[37] adalah awal Etika-Ahimsā. Bagaimanapun juga, segala tindakan destruktif manusia, baik yang beragama maupun yang tidak-beragama, baik yang menggunakan agama sebagai tameng kepentingan atau yang tidak, selalu berawal dari tidak terkelolanya dengan baik al-Nafs (Sad Ripu) yang ada di dalam diri manusia. Pada akhirnya, manusia yang tidak mampu mengendalikan nafs-nya (hawa nafsu) derajatnya lebih rendah dari hewan, demikian kata Tuhan di dalam Al-Qur’an[38]. (*)

 

 

Denpasar, 2007

 

 

*) adalah esais yang kini sedang menempuh program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar Bali

 

 

 

 

Catatan Kaki:




[1] Lihat, Prof. dr. K. Bertens da;am Sejarah Filsafat Yunani, 1999, Kanisius, hal. 107.

[2] Dikutip dari Dr. A.N. Baqirshahi, “Dasar-Dasar Nilai Moral: Studi Komparatif atas Pandangan Allamah Thabathaba’i dan  Ayatullah Muthahhari” dalam Jurnal Al-Huda, Volume I Nomor 2, 2002, hal. 97.

[3] Lihat Francis Alapatt, 2005, dalam Mahatma Gandhi, Prinsip Hidup, Pemikiran Politik dan Konsep Eknomi, penerbit Nusamedia dan Nuansa, Bandung, hal. 61.

[4] Sarasamusccaya, 2000, Pemerintah Propinsi Bali, terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh I Njoman Kadjeng, dkk., hal. 73.

[5] Sarasamusccaya, 2000, Pemerintah Propinsi Bali, terjemahan dalam Bahasa Indonesia oleh I Njoman Kadjeng, dkk., hal. 48.

[6] Lihat: S.M. Srinivasa Chari dalam The Philosophy of the Upanisads, A Study Based on the Evaluation of the Comments of Śamkara, Rāmānuja, and  Madhva, 2002, penerbit Munshiram Manoharlal Publishers Pvt. Ltd, hal 55. Chāndogya Upanisad adalah salah satu dari empat belas kitab Upanisad lainnya. Ia membahas doktrin Vedānta. Chāndogya Upanisad adalah pembahasan dari Samaweda; ia terdiri atas delapan bagian yang disebut adhyāya yang masing-masingnya dibagi ke dalam beberapa bagian yang disebut Khaņda.

[7] Lihat John McKenzie, MA dalam Hindu Ethics, A Historical  And Critical Essay, penerbit Oriental Books   Reprint Corporation, New Delhi, hal 60.

[8] Lihat, T.W. Rhys Davids, dalam The Hindus, Encyclopedia of Hinduism, 2000, Cosmo Publications, New   Delhi, Vol. 1 A-C, hal 38 – 39.

[9] Opcit, hal. 61.

[10] ibid, hal. 61. Terjemahan bebas oleh penulis, statemen pertama: “Tak ada dosa besar yang lebih parah dari orang yang,   selain tidak menyembah Tuhan, juga selalu mencari untuk mengenyangkan lambungnya dengan daging   makhluk lain.”  Statemen kedua, “Siapa saja yang memakan daging, entah daging itu dibelinya sendiri, atau dia sendiri yang menyembelihnya, atau bahkan menerimanya sebagai hadiah, tidak berdosa selama daging itu dipersembahkan kepada Tuhan.”

[11] Lihat I Gusti Ngurah Gorda, Dr. MS, MM, dalam Membudayakan Kerja Berdasarkan Dharma, 2004, Penerbit Pusat Kajian Hindu, Budaya Dan Perilaku Organisasi Sekolah Tinggi Ilu Ekonomi Satya Dharma, Singaraja, hal. 45.

[12] ibid, hal. 8.

[13] Lihat I Gusti Ngurah Gorda dalam Membangun Dharmawacana Yang Sejuk Dan Damai, Penerbit Astabrata   Bali, 2005, hal. 14 – 26.

[14] Sebagaimana yang dikutip oleh Dr. I Gusti Ngurah Gorda, MS, MM, dalam Membangun Dharmawacana Yang Sejuk Dan Damai, Penerbit Astabrata Bali, 2005, hal. 59.

[15] Dikutip dari ibid, hal. 57

[16] Dikutip dari ibid, hal. 45.

[17] Dikutip dari ibid, hal. 34.

[18] Lihat: Prof. Dr. Tjok. Sudharta, M.A, dalam Slokāntara, Untaian Ajaran Etika, Teks, Terjemahan dan   Ulasan, 2004, penerbit Paramita, Surabaya, hal. Hal 27.

[19] Menurut Prof. Dr. I Gusti Ngurah Gorda, MS, MM, ada tiga makna doktrin Karmaphala Sraddha, yang pertama makna literernya, kedua makna simboliknya, dan yang ketiga makna futuristisnya. Saya mengaitkan konteks pembahasan ini dengan makna yag ketiga, yakni yang visioner. Lihat: opcit, hal. 11 -12. 

[20] Dikutip dari Dr. I Gst, Ngurah Nala dan Drs. I.G.K. Adia Wiratmadja, 1989, dalam Murddha Agama Hindu, Upada Sastra, Denpasar, hal. 23.

[21] Opcit  hal. 40 – 44.

[22] Islam berasal dari kata ‘Aslama’ yang berarti selamat dan damai. Kata ini juga berderivasi dan kemudian menjadi kata ‘Salaam’ yang biasanya diucapkan kepada seseorang, misalnya “Assalamu ‘alaikum…” yang berarti    “Keselamatan atau damai atasmu”. Allah (Tuhan atau Hyang Widhi)  bahkan menggunakan kata ini, misalnya   di dalam surah Yaasiin ayat 58, “Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” Lihat: Al-Qur’an dan terjemahannya, Departemen Agama RI, 1993. Lihat juga Prof. Dr. Marcel A. Boisard dalam Humanisme Dalam Islam, 1980, penerbit Bulan Bintang, Jakarta, hal. 41.

[23] Lihat QS (21:107).

[24] Lihat Murthada Muthahhari dalam Filsafat Moral Islam, (terjemahan) 2004, penerbit Al-Huda, Jakarta. Ini adalah hadits yang sudah dikenal secara umum oleh umat Islam, baik Islam-Sunni maupun Islam-Syiah. Dalam redaksi yang berbeda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”, hal. 27.

[25] “Kita memaafkan karena kita tidak bias melupakan”.

[26] Lihat ibid hal. 23.

[27] Ibid, hal 23

[28] QS. Al-Maidah: 32.

[29] Misalnya pembahasan Prof Abdul Rahman Bin Hammad Al Umar dalam Islam The Religion Of Truth, tanpa tahun, versi Bahasa Inggris oleh Ahmad Hassouma di bawah pengawasan Supreme Head Office for Religious Researchs, Ifat, Call and Guidance Departments, hal. 43 pembahasan tentang persuadaraan antara Muslim dan Non Muslim. Begitu juga dengan Said Hawwa dalam bukunya Al-Islam (terjemahan), 2004, penerbit Gema Insani Jakarta, hal 283 pembahasan tentang tidak dibolehkannya seseorang membunuh sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 32 dan Surah Al-Isra ayat 70.

[30] Lihat Chawkat Moucarry dalam The Search For Forgiveness, Pardon and Punishment in Islam and Christianity, 2004, Inter-Varsity Press, hal.19. Terjemahan bebas dari penulis: “Pemaaf adalah janji Tuhan yang merefleksikan dir-Nya.”

[31] Ibid, hal 20. terjemahan bebas dari penulis: “Ajaran Islam mendorong setiap Muslim untuk mencari keridhaan (pemaafan) Tuhan dan hendaknya mereka memaafkan orang-orang yang mendzalimi mereka.”

[32] Kata Jihad berarti usaha yang serius. Ironisnya beberapa orang menganggap Jihad sebagai perang suci. Islam tidak mengenal istilah “Perang Suci”. Perang Suci adalah istilah dalam literature sejarah yang merujuk kepada Pasukan Perang Salib yang waktu itu memang Perang Salib dianggap sebagai Perang Suci oleh keolmpok tertentu. Lihat juga Prof. Dr. Marcel A. Boisard dalam Humanisme Dalam Islam, 1980, Bulan Bintang Jakarta, hal. 256, 257 – 265.

[33] Ibid, hal. 259. Dalam sejarah Isalm disebtukan bahwa waktu nabi Muhammad berseru, “Kita telah kembali dari perang kecil (Badar) untuk memulai perang besar (melawan hawa nafsu)”. Untuk itu dimulailah puasa sebagai tapa-brata untuk melawan hawa nafsu.

[34] Al-Nafs juga berarti jiwa seperti yang tertulis di dalam Al-Qur’an, Surah Al-Fajar ayat 27 – 30, “Wahai Jiwa-    Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai, Maka masuklah ke dalam  kumpulan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Menurut hemat penulis ayat ini secara implisit berarti juga Moksa sebagaimana kata Tuhan, “Kembalilah kepada Tuhanmu…” Lihat juga misalnya QS. An-Nazi’at: 39 – 41. Atau Murthada Muthahhari dalam Filsafat Moral Islam, (terjemahan) 2004, penerbit Al-Huda, Jakarta, Bab III, hal. 123, pembahasan tentang Diri (Nafs) Manusia.

[35] Lihat Persoalan-Persoalan Filsafat, 1984, penulis: Harold H. Titus, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan (alih bahasa Prof. Dr. H.M. Rasjidi), penerbit Bulan Bintang Jakarta, hal. 147 – 154. 

[36] Lihat Buku Panduan Tentang Hak Asasi Manusia Untuk Anggota POLRI 2006, hal. 5.

[37] Opcit  hal. 40 – 44.

[38] Q.S. al-Furqaan: 44, “Mereka itu, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” Lihat juga Said Hawwa dalam Al-Islam,  (terjemahan), 2004, penerbit Gema Insani Press Jakarta hal. 278. Di situ Said Hawwa menyebutnya sisi “kemanusiaan” yang dipertentangkan dengan sisi “kebinatangan”. Manusia akan menjadi “binatang” jika sisi “kemanusiaan-nya” lenyap—dengan kata lain, nafs atau Sad Ripu yang tidak terkendali akan mengubah manusia menjadi hewan.

Sekilas Tentang Filsafat Dan Filsafat Nyaya

Sangat jamak bagi nasib kebenaran baru bahwa ia mulai sebagai hujatan dan berakhir sebagai sebuah tahyul.” (T.H. Huxley)[1]

Oleh: Yuhis Muh. Burhanuddin*)

Filsafat: Dari Pertanyaan Ke Pertanyaan

APA itu Filsafat pertama-tama adalah pertanyaan Ilmu Filsafat yang dibahas oleh hampir semua literatur filsafat yang ada, baik itu berupa buku-buku rujukan, jurnal, maupun artikel dan ulasan-ulasan. Dari pertanyaan sederhana ini lahir pulalah beragam defenisi Filsafat.

Filsafat umumnya didefenisikan sebagai upaya pemikiran yang logis, sistematis, dan kritis, serta mendalam (radix) dan menyeluruh (komprehensif) untuk mencari jawaban dan atau kebenaran yang mutlak. Penyelidikan filsafati ini (sistematis, kritis, radix dan komprehensif) membidik sasaran tembak (baca: objek) apa saja, termasuk eksistensi Tuhan yang — bagi sebagian orang — masih sangat ditabukan. Bagi Filsafat, tak satupun yang tabu untuk dipertanyakan. Demikian, Filsafat selalu diawali dengan pertanyaan dan “ironisnya”, pun juga berakhir dengan pertanyaan.

Filsafat adalah “anti-kemapanan” di dalam dirinya. Mengapa? Dengan mengawali dan mengakhiri penyelidikan, spekulasi, dan argumen-argumennya dengan pertanyaan, nyaris tidak ada jawaban mutlak di dalam penyelesaian filsafati. Di dalam Filsafat selalu terbuka ruang bagi kritik. Bahwa kemudian ia menyelidiki segala sesuatu (realitas) untuk mencapai atau tiba pada sebuah kebenaran yang absolut (mutlak), memang demikianlah Filsafat. Persoalannya adalah kebenaran absolut itu sendiri adalah ideal yang kriterianya masih diperdebatkan. Jika misalnya secara naif kita menuding bahwa Kebenaran Absolut itu otomatis adalah Tuhan, maka menurut Filsafat, itu belum tentu!

Filsafat, jika kita menggunakan pendekatan Upamana Pramana, ibarat pasukan marinir yang menjadi pioner di setiap medan pertempuran. Pasukan marinir bertugas membuka jalan, kemudian pasukan infanteri melewati jalan tersebut. Filsafat membuka jalan, kemudian jalan yang sudah terbuka itu menjadi disiplin ilmu tertentu. Setelah itu, Filsafat tidak akan tinggal diam di dalamnya, melainkan terus merambah wilayah yang baru. Begitu seterusnya. “Adakah kata akhir bagi filsafat?” Pertanyaan ini pun masih diperdebatkan sampai detik ini. Singkatnya, seperti tokoh Gatoloco yang kontroversial itu, yang mana eksistensinya akan habis bilamana dia tidak “nyelenneh”, “urakan”, dan lain sebagainya—yang kesemuanya merupakan sikap anti-kemapanan—Filsafat juga akan habis eksistensinya bilamana ia ajeg (statis), apalagi bersikap positivistik.

Ragam Filsafat: Timur-Barat

RAGAM filsafat dibagi atas dua kategori pemikiran besar yakni pemikiran Filsafat Timur dan pemikiran Filsafat Barat. Masing-masing “blok” ini memiliki ragamnya masing-masing. Filsafat Timur misalnya, terdiri atas pemikiran Filsafat Islam, Filsafat Hindu, Filsafat Cina dan Filsafat Buddha. Sementara Filsafat Barat ragamnya terentang sejak dari abad ke-6 Sebelum Masehi (Yunani Kuno: Pra Sokrates, Masa Sokrates sampai Pasca Aristoteles, Abad Pertengahan (The Dark Age), zaman Renaissance, Abad Pencerahan (Enlightenment) yang melahirkan Abad Modern) sampai hari ini—Post-Modernisme.

Filsafat Islam dan Filsafat Hindu masing-masing memiliki ragamnya sendiri-sendiri. Mu’tazilah, Asy’ariyah, Syiah, Maturidiyah, dan Jabariyah adalah ragam Filsafat Islam. Sementara Nyaya, Waisesika, Sankhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta, serta Adwaita, Wisistadwaita dan Dwaita adalah ragam Filsafat Hindu. Baik Filsafat Islam maupun Hindu — yang masuk ke dalam gerbong Filsafat Timur — sama-sama memiliki kekhasan fokus penyelidikan yang sifatnya Metafisis-Teologis-Teleologis. Filsafat Hindu berkutat (baca: fokus) pada Brahman, Atman, Prakrti, Kala dan Karma—termasuk Kelepasan (Moksa). Filsafat Islam berkutat pada Eksistensi Tuhan, Kenabian, Kebebasan vis a vis Qada’-Qadar (Takdir) dan Al-Ma’ad (Hari Akhir). Kesamaan kedua di antara keduanya (Filsafat Islam dan Hindu) adalah bahwa Filsafat adalah pintu masuk keimanan jika tidak bisa dibilang “Pelayan Teologi”. Di bawah ini kita akan melihat salah satu dari enam sistem Filsafat Hindu ( Sad-Darsana—enam pandangan hidup atau sistem filsafat).

Nyaya

GAUTAMA, yang hidup pada abad ke-4 Sebelum Masehi, menulis Nyaya-Sutra. Dalam berbagai literatur sejarah Filsafat Hindu, beliau disebut sebagai The Founding Father-nya sistem Filsafat Nyaya. Jika dibandingkan misalnya dengan Thales, yang hidup kira-kira 625-545 SM — dan juga yang lainnya — Nyaya, yang nyaris sezaman dengan mereka, sudah lebih maju penyelidikan filsafatnya.

Memang, beberapa Filosof Pra Sokrates seperti Thales dan Anximenes sudah berkutat pada penyelidikan asas sebagai asal-mula semesta ini. Akan tetapi, menurut hemat saya, jawaban mereka (tentang anasir-anasir, kecuali Anaximandros[2]), selain belum dibangun di atas bangunan logika dan epistemologi yang mantap, jawaban seperti ini sebetulnya sudah tercantum di dalam Kitab Suci Weda (terutama Samhita dan Brahmana). Berbeda dengan Nyaya. Pada zamannya, Nyaya sudah menyelidiki realitas, termasuk asas sebagai asal-mula semesta ini, dengan pemikiran yang logis, kritis dan analitik. Di samping itu, Nyaya juga disebut-sebut sebagai ilmu berdebat, sementara kita semua tahu bahwa berdebat adalah pertama-tama mesti dibangun di atas fondasi logika yang kuat. Di bawah ini kita akan melihat seperti apa bangunan epistemologi Nyaya yang membedakannya dengan Filosof Pra-Sokrates.

Epistemologi Nyaya

BANGUNAN epistemologi Nyaya adalah realis-empiris[3]. Maksudnya bahwa dunia di luar kita berdiri sendiri. Jika dunia di luar kita berdiri sendiri, maka otomatis pengetahuan pun berasal darinya. Jika begini adanya, demikian menurut Nyaya, maka Pengetahuan tentang dunia di luar kita yang berdiri sendiri tersebut mesti didapatkan pertama-tama alat-alat inderawi kita. Akan tetapi Nyaya tidak berhenti hanya pada proses pencerapan inderawi atas sesuatu di luar kita tersebut. Karena bagaimanapun juga, akal mesti ikut berperan di sini. Ini bisa juga dikatakan sebagai pengetahuan yang A Priori dan A Posteriori dalam istilah Kant[4]. Bagi Nyaya, dibutuhkan instrumen lain atau alat (pramana) agar pengetahuan awal (yang umumnya masih mentah cerapan inderawi) bisa valid. Maka dibangunlah empat alat (pramana), yaitu Pratyaksa, Anumana, Upamana, dan Sabdha, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Keempat pramana ini adalah sistem Epistemologi Nyaya.

Pramana pertama adalah Pratyaksa. Pratyaksa adalah pengamatan. Cara kerjanya seperti ini. Segala sesuatu yang eksis di luar kita (manusia) bisa diamati keberadaannya selama ia dicerap panca indera. Di sini kita bisa lihat bahwa Nyaya betul-betul realis-empiris. Pandangan seperti ini belakangan baru berkembang di Barat beberapa abad setelah Masehi, tepatnya pada filsafat Empirisme-nya David Hume. Kembali kepada Nyaya. Mengapa demikian? Menurut Nyaya, ada hubungan antara kita (manusia) dan segala sesuatu yang eksis sebagai sasaran[5]. Sasaran ini, jika kita memakai pendekatan Nyaya yang realis-empiris, tentu mesti menempati ruang dan waktu. Singkatnya, antara manusia sebagai subjek pengamat dan benda sebagai objek yang diamati ada sebuah hubungan di antara keduanya. Hubungan ini bukanlah sensasi-sensasi semata (sebagaimana Hume menyatakannya), tetapi hubungan tersebut ada, nyata, dan riil.

Pratyaksa ada yang bersifat tidak-ditentukan (nirwikalpa) dan ada yang pula ditentukan (sawikalpa). Jika kita mengamati sebuah objek sambil lalu, itu adalah Nirwikalpa; kita belum mengetahui sepenuhnya objek tersebut karena yang kita tahu hanyalah bahwa ia ada, titik. Dan untuk sampai ke pemahaman yang menyeluruh tentang objek tersebut, kita mesti mengamatinya dengan seksama — apa-apa saja yang khas menyangkut objek tersebut — dan ini adalah Sawikalpa. Dengan Sawikalpa ini kita dapat mengetahui sebuah objek misalnya, atau katakanlah benda, bahwa ia itu adalah ini, warnanya ini, bentuknya ini, dan lain sebagainya. Sebetulnya ada banyak hal yang menyangkut Pratyaksa, misalnya yang dapat diamati bukan hanya substansi tetapi juga aksiden-aksiden-nya[6] yang abhawa[7]. Di samping itu ada juga pengetahuan yang bisa keliru[8] namun bukan berarti eksistensi yang kita amati dan lantas keliru itu memang salah adanya. Sebaliknya ia eksis, ada secara nyata, mungkin di tempat lain atau di mana saja.

Anumana adalah pramana yang cukup penting karena ini adalah penyimpulan. Konsep dasarnya adalah bahwa antara subjek yang mengamati dan objek yang diamati mesti terdapat sesuatu antara. Ini sangat berbeda dengan silogisme Aristoteles[9]. Sillogisme Nyaya tetap berdasarkan realitas, dan perantara antara subjek dan objek yang diamati tersebut juga bersifat empiris. Contohnya gunung yang mengeluarkan asap. Bagaimana kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa gunung tersebut berapi? Gunung adalah objek; kita mengamatinya dan kita melihat ada asap. Sebelum kita tiba pada kesimpulan bahwa gunung tersebut berapi, di titik ini kita mesti menyelidiki perantara-nya yang empiris. Bahwa kita pernah membakar sampah, memasak dan lain sebagainya. Dari pengalaman ini, kita menyaksikan bahwa sebelum sampah itu terbakar, mesti lebih dulu ada asap. Dengan kata lain, kesimpulan yang diambil (anumana) menurut Nyaya tidaklah abstrak, tetapi nyata bahwa kita pernah menyaksikan bahwa asap selalu disusul oleh api atau sebaliknya. Dan ketika kita melihat gunung yang mengeluarkan asap, karena pengalaman-pengalaman yang pernah kita saksikan dan alami berkata seperti itu, maka di saat itu pula kita langsung menyimpulkan bahwa gunung itu adalah gunung berapi, karena setiap ada asap pasti ada api walaupun di puncak gunung tersebut apinya belum tampak. Singkatnya, pengalaman kita akan setiap ada asap pasti ada api dan sebaliknya adalah posisi antara di dalam metode penarikan kesimpulan (anumana) menurut Nyaya.

Upamana adalah analogi atau perbandingan. Konsep dasar Upamana adalah membandingkan (menganalogikan) sesuatu dengan sesuatu yang lain yang hampir sama (tetapi tidak identik!) agar apa yang kita bandingkan tersebut dipahami oleh orang lain walaupun orang tersebut belum pernah menyaksikan secara langsung apa yang kita maksudkan. Misalnya saya mengatakan kepada Si A bahwa X itu berbahaya. Cilakanya Si A belum pernah melihat langsung apa itu X, otomatis dia tidak tahu. Selanjutnya saya harus memutar otak agar Si A tahu. Dalam situasi buntu seperti ini, saya mengambil sebuah perumpamaan yang mirip dengan X tersebut, katakanlah Z. Karena Z ini sudah akrab di mata Si A, barulah dia memahami. Suatu saat nanti, ketika dia melihat sesuatu yang mirip dengan yang pernah saya bandingkan tersebut (Z), maka otomatis Si A akan menyimpulkan bahwa inilah X, karena mirip dengan Z.

Pramana yang terakhir adalah Sabdha atau kesaksian. Pengetahuan bisa didaptkan melalui kesaksian orang yang mumpuni tentang sesuatu hal dan yang bisa dipercaya. Dalam hal ini, Weda adalah kesaksian yang bisa dipercaya kebenarannya. Orang yang bisa dipercaya kesaksiannya sebagai sumber pengetahuan disebut Laukika, sementara kitab suci Weda sebagai sumber pengetahuan disebut Vaidika. Contoh laukika seperti ini. Seseorang yang menderita sakit percaya bahwa penyakitnya TBC; dia sangat percaya karena yang memberitahukannya adalah dokter. Dokter dalam konteks ini adalah orang yang dipercayai kesaksiannya (laukika). Sebaliknya, tentu si sakit ini tidak akan percaya seratus persen bilamana yang menyimpulkan sakitnya itu adalah petani atau nelayan. Mengapa? Nelayan dan petani tidak tahu-menahu soal penyakit dalam manusia. Begitu juga misalnya jika saya mau tahu kapan waktu tanam tiba, tentu saya mesti menanyakannya kepada petani, bukan kepada dokter!

Filsafat Ketuhanan Nyaya

TENTANG Tuhan; Nyaya menyebutnya sebagai Penggerak Pertama atom-atom pembentuk alam ini. Nyaya membeberkan bukti kosmologis: dunia adalah akibat. Sementara bukti teleologis adalah tertib alam dan gerak. Dengan demikian, Tuhan adalah pencipta dan pemelihara. Tuhan adalah Jiwa (atau Kesadaran) Tertinggi: Paramatman. Tentang jiwa indvidu. Jiwa orang per orang adalah jivatman yang selalu terikat dengan karma-nya. Karma mempengaruhi kelepasan (Moksa). Kelepasan bisa diperoleh dengan pengetahuan kebenaran (enam belas kategori) karena ini bisa membebaskan seseorang dari ketidaktahuan. Ketidaktahuan inilah yang menyebabkan seseorang itu terlahir kembali.

Demikianlah perkenalan singkat kita dengan Filsafat dan Nyaya. Di lain waktu dan kesempatan, sebaiknya kita berkenalan juga dengan sutra-sutra yang lain. (*)

Denpasar, 2007

*) adalah esais yang kini sedang menempuh kuliah di Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia, Denpasar – Bali


[1] Dikutip dari Alan Woods dan Ted Grant, 2006, Reason in Revolt Revolusi Berpikir Dalam Ilmu Pengetahuan Modern, IRE Press, Yogyakarta, hal. 495.

[2] Anaximandros (610-540 SM) berpendapat bahwa “Yang Tak Terbatas” (Apeiron) yang meliputi segala sesuatu. Bandingkan misalnya dengan Anaximenes dan Thales (keduanya mengajukan salah satu dari empat anasir).

[3] Di beberapa buku Filsafat India tercatat sebagai “Realisme”. Saya cenderung menyatakan bahwa Nyaya bersifat “Realis-Empiris” sebagaimana alasan-alasan di atas.

[4] A Priori adalah kebenaran yang berada di depan, yang tanpa perlu dibuktikan secara empiris pasti sudah benar, contohnya sebab-akibat, dan A Posteriori adalah kebenaran yang bersifat empiris saja.

[5] Bandingkan dengan Kant. Immanuel Kant menyatakan bahwa yang kita bisa tahu dari sebuah objek adalah Fenomena-nya saja, apa yang tampak dari benda itu, sedangkan objek sebagai benda kita tidak pernah tahu, maka itu dari itu Kant menyebutnya “Das Ding an Sich” atau “Things-In-Itself”—objek-pada-dirinya.

[6] Konsep dasar Aksiden, sebagai istilah teknis filsafat, adalah sesuatu yang melekat, merujuk kepada sesuatu yang lain. Jadi, aksiden sebagai sesuatu melekat pada setiap subtansi sebagai sesuatu yang lain. Aakan tetapi substansi itu sendiri tidak melekat pada aksiden tersebut. Contohnya Piring dan Putih masing-masing adalah substansi dan aksiden. Piring adalah substansi; ia bisa eksis tanpa putih (aksiden), piring ya piring, sementara putih sebagai aksiden pasti selalu membutuhkan substansi, tidak bisa eksis sebagai putih saja. Ada juga yang berpendapat bahwa antara substansi dan aksiden tidak bisa dipisahkan. Pendapat seperti ini akan gagal bilamana ia ditarik ke wilayah Metafisika.

[7] Tidak terlihat.

[8] Contohnya penampakan antara seutas tali dan seekor ular yang bisa jadi kita keliru menyimpulkan yang mana ular dan yang mana tali. Keduanya sama-sama eksis, ada dan benar.

[9] Premis Mayor dan Premis Minor, kemudian dari penggabungan dan perbandingan keduanya ditarik kesimpulan.

FILSAFAT DAN PEMBAGIANNYA

 

Kerapkali ilmu filsafat dipandang sebagai ilmu yang abstrak dan berada di     awang-awang (= tidak mendarat) saja, padahal ilmu filsafat itu dekat dan berada dalam kehidupan kita sehari. Benar, filsafat bersifat tidak konkrit, karena menggunakan metode berpikir sebagai cara pergulatannya dengan realitas hidup kita.

Filsafat , philosophy, dalam bahasa Inggeris, atau philosophya dalam Yunani mempunyai arti cinta akan kebijaksanaan. Philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi. Dari pengertian tersebut filsafat sebenarnya amat dekat dengan realitas kehidupan kita. Untuk mengerti apa filsafat itu, orang perlu menggunakan akal budinya untuk merenungkan relaitas hidupnya, “apa itu hidup? Mengapa saya hidup? Akan kemana saya hidup? Tentunya pertanyaan tersebut sejatinya muncul alamiah bila akal budi kita dibiarkan bekerja. Persoalannya, apakah orang atau peminat filsafat sudah membiarkan akal budinya bekerja dengan baik memandang relaitas? Aristoteles menyebut manusia sebagai “binatang berpikir”.

Berbagai pengertian Filsafat

A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentag bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang. Thinking about thinking.

Beberapa filsuf mengajukan beberapa definifi pokok seperti:

Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas

Upaya untuk melukiskan hakekat realitas akhir dan dasar serta nyata,

Upaya untuk menentukan batas-batas jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakekatnya, keabsahannya, dan nilainya.

Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan

Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang ada katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat.

Penulis sendiri mendefinisikan ilmu filsafat sebagai disiplin ilmu yang mencari dan menggeluti segara yang ada sehingga sampai pada suatu kebijaksanaan universal dengan mengunakan akal budi guna merumuskanya secara sistematis, metodis dan dapat dipertanggungjawabkan secara akal budi pula.

Metode Filsafat

Metode filsafat adalah metode bertanya. Objek forma filsafat adalah ratio yang bertanya. Obyek materinya semua yang ada. Maka menjadi tugas filsafat mempersoalkan segala sesuatu yang ada sampai akhirnya menemukan kebijaksanaan universal.

Pembagian Bidang Ilmu Filsafat

 A. Sonny Keraf membedakan ilmu filsafat menjadi 5 cabang besar: (1) metafisika atau ilmu tentang yang ada sebagai ada; (2) epistemologi atau filsafat ilmu pengetahuan; (3) etika atau filsafat moral yang berbicara mengenai baik-buruknya perilaku manusia; (4) logika berbicara mengenai cara berpikir lurus dan tepat; (5) estetika atau filsafat keindahan berbicara tentang seni.

Aristoteles memasukkan ke dalam bidang filsafat: logika, etika, estetika, psikologi, filsafat politik, fisika, dan metafisika. Pembagiannya terhadap bidang-bidang ilmu, mempunyai tiga bagian: ilmu-ilmu teoritis, ilmu-ilmu praktis, dan ilmu-ilmu produktif.

Christian Wolff membagi filsafat menjadi: logika, filsafat pertama, ontologi, teologi, kosmologi, psikologi rasional, etika, dan teori pengetahuan. Disiplin-disiplin ini dibagi menjadi tiga bagian: teoritir, praktis dan kriteriologis.

Dewasa ini, bidang-bidang filsafat diketahui meliputi kebanyakan disiplin yang disebut di atas tadi, meski ada kekecualian, seperti fisika dan psikologi telah mendapat privilesenya sendiri. Filsafat sering dianggap sebagai ilmu politik. Teologi telah digantikan oleh filsafat agama.

Di samping itu, tanggung jawab filsafat terhadap bidang-bidang lain semakin diakui melalui perkembangan filsafat, studi dan kursus interdisipliner. Yang paling penuh perkembangannya adalah filsafat ilmu pengetahuan. Disiplin ini mengandung anataf filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial: filsafat sejarah, filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat pendidikan.

Beberapa Cabang Filsafat

Filsafat Alam 

Obyeknya: alam kehidupan dan alam bukan kehidupan. Tujuannya: menjelaskan fenomena alam dari aspek eksistensi fenomena tersebut dan menelusuri syarat-syarat kemungkinan. 

Filsafat Analitis

Ilmu memusatkan perhatian pada bahasa dan upaya untuk menganalisis pernyataan (konsep, atau ungkapan kebahasaan aatau bentuk-bentuk logis. Tujuannya ialah untuk menemukan pernyataan-pernyataan yang berbentuk logis dan ringkas dan yang terbaik, yang cocok dengan fakta atau arti yang disajikan.

Filsafat Bahasa Sehari-hari

Paham ini berpandangan bahwa dengan menganalisis bahasa biasa (makna, implikasi, bentuk dan fungsinya) kita dapat memperlihatkan kebenaran mengenai kenyataan. Dengan analisis bahasa biasa kita dapat memahami masalah pokok filsafat dan sekaligus dapat memecahkannya.

Filsafat Gestalt

Salah satu pandangan filsafat ini berpandangan bahwa realitas merupakan dunia tempat organisme fisik memberikan tanggapan dalam proses mengatur struktur-struktur atau keseluruhan yang diamati.

Filsafat Kebudayaan

Filsafat ini memberikan gambaran keseluruhan mengenai gejala kebudayaan (bentuk, nilai dan kreasinya). Tugasnya untuk menyelidiki hakekat kebudayaan, memahaminya berdasarkan sebab-sebab dan kondisi-kondisinya yabg esensial. Filsafat ini juga bertugas untuk menjabarkan pada tujuan-tujuannya yang paling mendasar dan karena itu juga menemukan arah dan luas perkembangan budaya.

Filsafat Kehidupan

Filsafat kehidupan dalam bahasa sehari-hari berarti (1) cara tau pandangan hidup. Dan ini bertujuan mengatur segalanya secara praktis. (2) Etika sebagai ilmu yang berbicara mengenai tujuan dan kaidah-kaidah kehidupan dapat juga disebut sebagai filsafat kehidupan.

Dari pemaparan di atas, ilmu filsafat merupakan ilmu yang lahannya luas dan rumit. Untuk mereka yang berminat pada filsafat, mereka harus mempelajari pengantar-pengantar ke bidang filsafat. Peminat Ilmu filsafat di Indonesia semakin berkembang. Hal ini terlihat berkembangnya peminat filsafat di perguruan tinggi/ sekolah tinggi filsafat baik yang dikelola pemerintah maupun swasta nasional. Semoga informasi ini bermanfaat bagi siapa saja yang mencintai kebijaksanaan.

Sumber:

Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan, sebuah tinjauan filosofis, Kanisius: Yogyakarta, 2001

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta, 2002

STFT Widya Sasana Malang, Diktat Kuliah, 1999, Widya Sasana: Malang

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.